Pekanbaru (Antara Bengkulu) - Sebanyak 54 reaktor biogas dalam tahap pembangunan di Kecamatan Kerinci Kanan, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, menggunakan bahan baku dari sisa kotoran sapi sebagai bahan bakar.

"Rencananya ada 50 reaktor biogas individu di tiap rumah warga, dan empat reaktor komunal yang bisa untuk bahan bakar beberapa rumah," kata Kepala Desa Bukit Harapan, Ahmad Mundir kepada Antara di Pekanbaru, Minggu.

Ia menjelaskan, pembangunan reaktor biogas itu merupakan bentuk kerja sama warga dengan Yayasan Mitra Insani. Sedangkan, dana pembangunannya merupakan hasil kerjasama dengan Energy and Enviromental Partnership (EEP) dari Finlandia.

Mayoritas dari 312 kepala keluarga di Desa Harapan Raya merupakan petani kelapa sawit yang sebagiannya sekaligus menjadi peternak sapi. Awalnya, warga dibantu Yayasan Mitra Insani mengembangkan pakan ternak tanpa rumput dengan memanfaatkan daun dan pelepah kelapa sawit yang dihaluskan.

Setelah program itu sukses, maka warga ingin terus melakukan pengembangan bagaimana limbah sapi bisa dioptimalkan yang akhirnya menarik perhatian EEP untuk membantu mendanai program reaktor biogas.

"Jadi selain program integrasi sawit dan sapi, limbah kotoran sapinya juga bisa digunakan untuk bahan bakar," katanya.

Pendamping warga dari Yayasan Mitra Insani, Moelyadi, menjelaskan cara kerja reaktor biogas sebenarnya cukup sederhana. Reaktor biogas itu berupa kubah dengan kapasitas empat meter kubik (M3) yang tertanam di tanah.

Warga cukup mencampurkan kotoran sapi dengan air, memasukannya ke dalam kubah, kemudian gas yang tercipta alami akan terkumpul di atas kubah dan bisa dialirkan melalui pipa ke dalam rumah untuk bahan bakar untuk memasak.

"Dengan kapasitas reaktor individu, bahan bakar bisa untuk menyalakan kompor selama empat jam dalam sehari," katanya.

Selain itu, penggunaan reaktor biogas juga menguntungkan warga karena langsung menghasilkan pupuk kompos siap pakai. Setiap empat M3 kotoran sapi yang diolah per hari, akan menghasilkan pupuk dengan jumlah yang sama.

"Artinya, warga tidak hanya mendapatkan bahan bakar biogas karena dalam sebulan warga juga bisa memproduksi pupuk organik sekitar 100 liter yang bisa digunakan untuk empat hektar lahan sawit mereka," katanya.

Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Insani, Zainuri Hasyim, mengatakan warga juga mendapat pelatihan untuk membuat dan merawat reaktor biogas. Pembangunan 54 reaktor biogas ditargetkan rampung pada tahun ini.

Ia mengatakan, keterlibatan masyarakat juga sangat kuat karena sebagian dari biaya pembangunan reaktor biogas dicicil oleh warga sendiri. Dari kebutuhan dana Rp7,5 juta untuk pembangunan satu reaktor individu, pihak donor hanya memberi subsidi sebesar Rp4,5 juta.

 "Dengan begitu, saya berharap masyarakat bisa merasa memilikinya," katanya.

Ke depan, reaktor biogas itu diharapkan bisa juga untuk bahan bakar untuk penerangan listrik bagi warga setempat. (ANT)

Editor: Helti Marini S
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar