Mendengar nama Kabupaten Nabire, ingatan kita mungkin akan langsung menuju pada musibah keributan tinju di GOR Kota Lama yang menewaskan 17 orang akibat berdesak-desakan.

Minggu malam itu (14/7), di dalam GOR yang diisi melebihi kapasitas telah dipertandingkan final Tinju Piala Bupati antara petinju Alfius Rumkorem dari Sasana GPT Persada dan Yulius Pigome dari Sasana Mawa.

Menjelang upacara penyerahan penghargaan, tanpa diduga di sekitar ring terjadi keributan. Beberapa penonton yang diduga mabuk mulai membanting kursi plastik. Beberapa kursi bahkan dikabarkan sempat melayang akibat saling lempar.

Penyerahan penghargaan kepada pemenang yang direncanakan dilakukan Bupati Nabire Isaias Douw akhirnya tidak terlaksana. Penonton yang panik berlarian ke pintu utama gedung.

Akibat keributan itu, 17 orang penonton meninggal dunia di sekitar pintu keluar. Dokter menyatakan mereka meninggal akibat kehabisan oksigen karena berdesak-desakan. Tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik terhadap tubuh korban yang meninggal.

Di balik musibah yang memilukan itu, ternyata kabupaten kecil yang menjadi pintu gerbang bagi beberapa kabupaten di sekitarnya seperti Paniai, Dogiai, Deiyai dan Intan Jaya itu menyimpan pesona serta potensi yang kurang dikenal masyarakat luar.

Nabire terletak di pantai utara, tepatnya di bagian leher pulau Papua yang menyerupai burung. Dengan lokasi tersebut, Nabire memiliki pantai yang cukup indah.

Pada sore hari, masyarakat Nabire cukup banyak yang menghabiskan waktu untuk melihat matahari terbenam di Pantai Nabire. Beberapa pohon ketapang yang ditanam, dan tempat untuk duduk-duduk menjadi daya tarik.

Di pantai itu juga terdapat penanda, yaitu tulisan Pantai Nabire cukup besar yang bisa menjadi objek untuk berfoto. Pantai Nabire adalah lokasi yang paling tepat untuk mengabadikan kenangan pernah berkunjung ke kota tersebut.

Meskipun memiliki pantai yang indah, daerah tersebut juga cukup sering dilanda gempa. Selama Juli 2013 saja, tercatat dua kali kota tersebut dilanda gempa meskipun tidak mengakibatkan kerusakan apa pun.

Gempa tektonik cukup sering terjadi karena daerah itu berada di antara dua lempeng bumi Samudera Pasifik.

    
          Wilayah transmigrasi

Seperti halnya kota-kota besar di Papua, masyarakat pendatang di Nabire cukup banyak, apalagi kabupaten itu pernah menjadi daerah tujuan transmigrasi pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Bahkan bisa dikatakan, kabupaten itu mengalami kemajuan infrastruktur dan perekonomian karena hadirnya masyarakat pendatang. Masyarakat pendatang menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam dan berdagang.

Karena banyak transmigran dari Pulau Jawa, maka tidak mengherankan bila beberapa daerah setingkat kelurahan di Nabire memiliki nama yang kejawa-jawaan.

Gelombang transmigrasi pertama terjadi pada 1972. Para transmigran dari Jawa itu kemudian mendiami wilayah di Distrik Nabire yang disebut Girimulyo. Disusul gelombang kedua pada 1975, transmigran menempati daerah yang disebut Bumi Wonorejo.

Gelombang transmigrasi berikutnya menempati daerah di Kecamatan Kaligiri yang disebut SP yang terdiri dari SP I, SP II, SP III dan SP IV. Di wilayah-wilayah transmigrasi itulah, banyak dijumpai pemukiman etnis Jawa.

Tidak berbeda dengan daerah lain di Papua, Nabire juga bisa dikatakan tidak mengenal musim. Setiap hari, terik matahari dan derasnya hujan datang bergantian. Karena itulah, wilayah Papua sangat cocok untuk bercocok tanam.

Ngatini (51), salah satu warga Bumi Wonorejo mengatakan, dengan cuaca yang tidak mengenal musim, para transmigran dari Jawa bisa menanam padi sepanjang tahun.

"Tapi bagi sebagian besar transmigran, menanam padi di sawah dirasa kurang menguntungkan. Saat ini lebih banyak yang memilih menanam jeruk," kata perempuan asal Wonosari, Daerah Istimewa Yogyakarta itu.

Ngatini yang tinggal di Nabire sejak 1975 itu tidak terlalu ingat kapan transmigran mulai menanam jeruk di Nabire. Yang dia ingat, bibit jeruk dibawa pertama kali oleh seorang transmigran dari Purworejo yang disebut Mbah Madyo.

"Yang pertama bawa bibit jeruk Mbah Madyo. Tapi lama kelamaan transmigram lain juga membawa bibit dari daerah asalnya," tuturnya.

Karena itulah, jeruk kini menjadi ciri khas bagi wilayah Bumi Wonorejo, bahkan Nabire. Banyak orang yang ketika pulang dari kunjungannya ke Nabire membawa oleh-oleh jeruk.

Ngatini mengatakan jeruk-jeruk itu selain dijual di tingkat lokal, cukup dikirim ke daerah lain karena banyaknya permintaan. Di tingkat lokal, tidak hanya pengunjung saja yang membeli, tetapi juga putra daerah Papua.

Apalagi, harga jeruk Nabire sangat terjangkau. Ngatini hanya menjual dengan harga Rp8.000 per kilogramnya. Sedangkan apabila dikemas dalam kotak karton, dijual dengan harga Rp40.000 dan Rp50.000 tergantung ukurannya.

Meskipun harganya sangat terjangkau, tetapi rasa jeruk Nabire tak kalah dari jeruk impor. Rasa jeruk Wonorejo menyegarkan tak terlalu manis, tapi juga tidak asam, dengan kandungan air yang cukup banyak.

Dengan potensi tersebut, maka sebenarnya Nabire mampu bersaing untuk menjadi daerah penghasil jeruk. Apalagi di tengah serbuan buah-buahan impor karena terbukanya pasar bebas, jeruk Nabire bisa menjadi pilihan, bahkan mungkin andalan, untuk melawan jeruk dari luar negeri.

Mungkin permasalahan lokasi yang jauh dan agak sulit dijangkau saja yang menjadi alasan jeruk Nabire kurang dilirik pedagang buah dari wilayah Indonesia lainnya.

Padahal, Nabire memiliki bandar udara dan pelabuhan laut yang cukup memadai. Apalagi, pemerintah sedang merencanakan membangun bandara udara baru yang lebih besar dan lebih representatif.

Namun, untuk menjadikan jeruk Nabire sebagai andalan melawan serbuan jeruk impor tentu diperlukan perhatian berbagai pihak seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah dan investor.

Investasi mutlak diperlukan untuk mendorong petani jeruk meningkatkan produktivitas tanamannya sehingga tak terjadi kekuarangan pasokan serta untuk membangun armada pengangkutan untuk memasarkan jeruk Nabire ke daerah lain. (Antara) 

Editor: Helti Marini S
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar