Banda Aceh (ANTARA Bengkulu) - Legenda "linon dan smong" (gempa bumi dan tsunami) merupakan cerita nyata yang turun-temurun dan telah melekat di benak setiap individu warga Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh.

Cerita yang dikenal dengan "Smong tahun 07" itu bukan sekedar dongeng untuk pengantar tidur anak kecil, tapi merupakan cerita tragedi gempa bumi dan gelombang besar yang perna menyapu pulau Simeulue tahun 1907.

Kabupaten Simelue yang berada di Lautan Hindia berpenduduk 187 ribu jiwa, tersebar di 138 desa di delapan kecamatan, akhir-akhir ini sering dilanda gempa bumi.

Hikayat peringatan dalam bentuk cerita sepertinya muatan lokal yang telah membudaya di lingkungan warga Simeulue, sehingga saat terjadi gempa bumi dan tsunami pada 24 Desember 2004, di daerah itu tidak ada satu pun korban jiwa.

"Pada kejadian 2004, Alhamdulillah masyarakat Simeulue tidak ada yang meninggal, karena saat  gempa dan tsunami, kami semua lari ke daerah yang tinggi," kata Ahlinuddin, warga Sinabang Simeulue.

Ahlinudin bersama dua temannya Makdian dan Khaidir, menceritakan pengalaman pahit orang tuanya dan neneknya, saat terjadi gempa dan tsunami tahun 1907.

Meskipun Ahlinuddin yang kini berumur 74 tahun, namun masih ingat cerita orang tuanya tentang tragedi smong, yang tak terhitung mengulang cerita kearifan lokal, kepada, anak, cucu dan orang lain.

Cerita itu, Ahlinuddin terima dari mendiang ibu kandungnya, Teriana yang meninggal dunia pada tahun 1966.

"Cerita smong tahun 1907 itu dialami mendiang ibu kandung saya yang tersangkut di batang rumbia yang hanyut, saat gelombang besar," cerita Ahlinuddin dengan mulut bergetar dan mata berlinang, saat menyebut nama ibu kandungnya, yang pada waktu kejadian, berada di Gampong, Amarabu, Kecamatan Simeulue.

Cerita linon dan smong 07, yang menjadi momok dan tragedi becana alam sepanjang sejarah Pulau Simeulue, juga diperjelas Makdian (71), yang mendengar riwayat tragedi itu dari orang tuanya.

Ia mengatakan, tanda-tanda akan tiba bencana alam, seperti mendadaknya kerbau yang tiba-tiba lari tidak tentu arah, termasuk burung-burung, juga berterbangan dan hiruk pikuk meninggalkan tempat bertengger.

"Contoh sudah saya lihat tanda-tanda akan datang gempa, seperti tahun 2004. Kerbau langsung berlarian, dengan menaikan moncongnya sambil mengeluarkan suara lenguhan keras yang  tidak tentu arah, juga termasuk burung-burung, nah disini terbukti, tidak ada hewan yang mati saat gempa bumi dan tsunami," kata Makdian.

Selain itu, ia juga mengingatkan bila gempa bumi datang dan air laut surut segera lari, karena akan ada gelombang laut besar ke darat.

Persoalan gempa bumi yang ditakutkan dan menimbulkan tsunami, menurut Makdian, gempa bumi yang goncangannya bersifat verstikal dan horizontal, akan menimbulkan tsunami besar.

"Gempa bumi tahun 2004 itu, seperti dari atas ke bawah dan diayun ke berbagai arah, gempa seperti itu yang kita takutkan, kalau gempa bumi yang terjadi Rabu, tanggal 11-4-2012, hanya diayun tidak naik turun," katanya.

Komunikasi batin
Cerita kearifan lokal yang dipegang teguh oleh penduduk Pulau Simeulue, yang berada di lintasan garis merah rawan gempa bumi dan berada di Samudera Hindia tersebut seakan menjadi komunikasi bathin.

Sehingga saat terjadi gempa masyarakat di pulau penghasil cengkeh dan lobster itu langsung lari ke tempat yang tinggi atau menjauh dari laut.

Khaidir (64), saksi mata gempa bumi dan tsunami 2004, ketika gempa sedang berlangsung, pada saat itu juga, air laut surut dengan cepat, sempat menyaksikan ikan menggelepar, dan dalam hitungan menit, air laut naik ke darat meludeskan rumahnya, yang terpaut dari bibir pantai hanya 30 meter, di Gampong Lata'aya, Kecamatan Simeulue Tengah.

"Ketika sedang gempa bumi tahun 2004, dengan posisi merangkak dari rumah menuju pantai, hanya 30 meter, saya melihat air laut, sudah surut dan ikan yang terdampar, dengan sekuat tenaga saya berusaha berdiri sempoyangan, lari ke rumah, dibantu keluarga mempersiapkan periuk, beras, dan perlengkapan lainnya, untuk segera lari ke atas dataran tinggi," kenang Khaidir.

Setelah merasa aman, turun untuk melihat kondisi rumahnya, telah hancur digulung gelombang.  

"Setelah saya rasa aman, lalu turun untuk melihat rumah saya, ternyata tidak ada lagi, hanya lokasinya saja yang saya kenal, syukur Alhamdulillah tidak ada yang korban di kampung saya, karena saat surut air, kami berteriak, smong, smong," kata pria yang rambutnya telah memutih semua.

Kelebihan dari pria, yang mengaku memiliki indera keenam, beberapa hari sebelum datang gempa bumi dan akan menimbulkan bencana tsunami, hati kecilnya selalu berbisik, "hati-hati, gempa akan tiba. Ini sudah terjadi berulang kali, tapi ini bukan ramalan, yang lebih tau hanya Yang Maha Kuasa," pungkasnya dengan nada suara berat, dibarengi batu-batuk kecil.

Ternyata legenda cerita Linon dan Smong, tidak lepas dari mulut setiap warga Simeulue, termasuk warga dari luar daerah yang menetap di pulau itu.

Eka Amaranggana pelajar kelas 1 SMP dan M Egra Shabara, pelajar kelas 1 SMA, di Kota Sinabang, kedua kakak beradik tersebut, lahir di Kota Banda Aceh, mengaku awalnya bingung, karena disuguhkan cerita Linon dan Smong, oleh sang neneknya, Jusnimah (66).

"Saya dan adik saya tidak pernah tau apa itu linon dan smong, tapi nenek saya selalu cerita tentang linon dan smong, artinya bila gempa bumi dan air laut surut, segera lari cari tempat tinggi atau gunung, sebab akan datang gelombang besar, seperti Rabu lalu, saya , adik, ibu, bersama ayah lari ke bukit yang ada di belakang rumah," kata M Egar Shabara (16).
    
Titik evakuasi
Meskipun, kearifan lokal sudah melekat, sepertinya upaya atisipasi tetap diperlukan, sehingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Simeulue mengusulkan 30 lokasi titik evakuasi bencana alam di delapan kecamatan.

"Kita telah merencanakan dan mengusulkan 30 titik lokasi evakuasi bencana alam, untuk memudahkan masyarakat menghindar atau berlindung saat terjadi bencana gempa," kata Kepala BPBD Simeulue Mulyadinsah.

Selain titik-titik evakuasi, juga memperbanyak tanda penunjuk jalan arah jalur evakuasi yang belum tersedia, katanya.

Ia menyebutkan, setelah dilakukan pemetaan dan eksperimen titik-titik teraman untuk evakuasi, beberapa bulan lalu, dilanjutkan dengan mengajukan draf usulan kepada Pemkab Simeulue, pada Maret lalu.

"Nanti apabila sudah tersedia titik evakuasi dan tanda penunjuk jalan, akan menekan korban dan mempermudah tugas tim penyelamat," kata M Asdarmansyah Mas SE, Ketua Satgas Resciu Simeulue.

Namun, rencana usulan titik-titik evakuasi tersebut, sejumlah kalangan menilai sangat terlambat, karena daerah kepulauan itu terkenal dengan kearifan lokal, tentang smong (stunami).      "Ini memang aneh, di tempat lain sudah tersedia, kok ditempat kita tidak ada. Padahal Simeulue terkenal dengan cerita smong, ini ada apa sebenarnya dengan pemerintahan kita," kata Rizal, warga Simeulue.

Lebih lanjut Rizal menambahkan, selama ini juga di Simeulue, tidak pernah dilakukan  simulasi bencana alam.

"Setahu saya tidak pernah ada simulasi bencana alam kepada warga, maka pada saat gempa berkekuatan 8,5 SR Rabu (11/4), warga berhamburan tidak tau tujuan, termasuk saya," ujarnya.

Tidak heran, sejumlah gempa bumi dan tsunami kecil yang terjadi di Pulau Simeulue, warga kepanikan menuju dataran tinggi, tanpa pemandu dan penunjuk jalan, yang mengakibat saling mendahului sesama warga, yang menyebabkan menimbulkan korban, bukan karena bencana alam, akan tetapi karena kecelakaan di jalan.

Namun demikian, cerita turun menurun tentang linon dan smong telah berhasil memperkecil korban jiwa dari gempa dan tsunami.

Ternyata cerita turun temurun atau kearifan lokal tentang "linon dan smong", bukan dongeng pengantar tidur, tapi legenda yang telah membumi dalam benak warga Pulau Simeulue. (T.H011/E001)

Editor: Awi
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar