Bengkulu (ANTARA Bengkulu) - Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu awal pekan lalu menggelar rapat telaah program Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB) 2012.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu Hilaluddin Nasir mengatakan, rapat tersebut diikuti Kepala SKPD KB  kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu.  "Tujuan dari telaah untuk meningkatkan kometmen agar sasaran pembangunan K-KB pada 2012 dapat direalisasikan dengan baik, " ujarnya.

Ia mengatakan, pembangunan program K-KB di Indonesia mempunyai ciri yang spesifik, karena keberhasilan selama ini hasil gotong-royong segenap potensi aparatur pemerintah, para stakeholder, mitra kerja, Swasta, Lembaga Profesional, LSOM dan seluruh masyarakat.

Rapat Penelaahan Program K-KB Provinsi Bengkulu tahun 2012 ini mempunyai makna khusus, karena tahun ini merupakan priode dua setengah tahun Program RPJMN tahun 2010 – 2014.

Oleh karena itu, pertemuan ini merupakan siklus manajemen Program K-KB, akan menelaah pelaksanaan dan hasil pencapaian sasaran kinerja Program pada Semester I tahun 2012, menyusun strategi dan rencana aksi untuk menyelesaikan sasaran pada semester II tahun 2012, serta merumuskan kebijakan dan strategi K-KB tahun 2013.
 
Dalam kurun dua setengah tahun lebih perjalanan RPJMN 2010 – 2014, untuk mengajak pasangan usia subur menjadi peserta KB baru, telah menunjukkan hasil pencapaian sasaran peserta KB baru yang menggembirakan.

Kendati demikian tidak menyurutkan semangat kerja meski belum diketahui dampak dari hasil kinerja selama itu, apakah mempunyai makna dan mampu meningkatkan kesertaan dan kelangsungan para peserta KB itu dalam menurunkan angka kelahiran.

Oleh karenanya, pada 2012 ini tengah melakukan survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, yang akan menunjukkan hasil kerja. Kerja keras selama lima tahun terakhir dampaknya akan dapat diukur dari hasil SDKI 2012 yang hasilnya akan dapat diketahui pada akhir tahun ini.

Data hasil SDKI tahun-tahun sebelumnya, terutama hasil SDKI 2002 dan 2007 menunjukkan bahwa pelaksanaan program KB selama periode itu ternyata kurang menggembirakan. Angka kesertaan ber-KB atau tingkat prevalensi KB hanya sedikit meningkat dan angka kelahiran TFR relefan stagnan.

Sementara itu Angka Kematian Ibu (AKI) pada SDKI 2007 masih menunjukkan angka yang tinggi, yaitu 228 per 100.000 kelahiran hidup. Gambaran dari kedua hasil SDKI 2002 dan 2007 sesungguhnya menunjukkan bahwa kondisi Program KB pada periode tersebut melemah, sehingga kita tidak terkejut ketika hasil Sensus Penduduk tahun 2010 diumumkan dan jumlah penduduk Indonesia berada sekitar 237,6 juta atau 3 juta lebih tinggi dari angka proyeksi penduduk, katanya.(war/rga)

Editor: Rangga
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar