Ribuan warga Bengkulu saksikan

Warga KKT mengarak tabot pada prosesi "Tabot Tebuang". (foto/triono subagyo)

.....Ritual Tabot Tebuang bermakna membuang semua perbuatan buruk karena diyakini kebaikan pasti bisa mengalahkan kejahatan.....
Berita Terkait
Bengkulu (ANTARA Bengkulu) - Ribuan warga Bengkulu menyaksikan ritual "Tabot Tebuang" yang merupakan puncak perayaan Tabot di daerah itu pada 10 Muharam 1434 Hijriah atau bertepatan dengan 24 November 2012.

"Ritual Tabot Tebuang bermakna membuang semua perbuatan buruk karena diyakini kebaikan pasti bisa mengalahkan kejahatan," kata Pelaksana Tugas Ketua Kerukunan Keluarga Tabot (KKT) Bengkulu Syiafril Syahbudin, Sabtu.

Ritual Tabot Tebuang merupakan puncak upacara Tabot setelah ritual Ambik Tanah, Duduk Penja,Menjara, Arak Jari-Jari, Arak Sorban, Tabot Naik Pangkek, Arak Gedang dan Tabot Besanding.

Ritual "Tabot Tebuang" atau Tabot Terbuang diawali dengan berdoa yang dilakukan oleh 17 KKT di gerga (markas) Imam yang berada di Kelurahan Berkas dan gerga Bangsal di Kelurahan Malabro Kota Bengkulu.

Selanjutnya, keluarga keturunan tabot bersama 17 unit tabot ritual berangkat menuju Gedung Daerah untuk bergabung dengan 26 tabot turutan dan tabot pembangunan.

"Sebanyak 43 tabot dilepas oleh Pelaksana Tugas Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah sekitar pukul 10.00 WIB di depan Gedung Daerah untuk diarak menuju makam Imam Senggolo di Karabela Kota Bengkulu," ujarnya.

Arak-arakan puluhan tabot tersebut dimeriahkan rombongan penabuh musik tradisional Bengkulu yakni dol yang ditabuh sepanjang perjalanan sejauh sekitar enam kilometer yang mereka lalui.

Pada barisan paling depan berjalan para tokoh KKT yang diikuti puluhan bangunan tabot.

Arak-arakan tersebut menyusuri jalan Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Sudirman, Suprapto dan beristirahat di jalan S Parman untuk menunaikan shalat Dzuhur.

"Kemudian rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Saat berada di persimpangan sekip Kota Bengkulu, mereka disambut tokoh keluarga tabot lainnya yang membawa beberapa perlengkapan ritual tabot tebuang," katanya.

Tabot Tebuang berakhir dengan berdoa di depan makam Imam Senggolo di Karabela lalu melepas dan menyimpan kembali semua perlengkapan ritual tabot seperti "jari-jari" dan bendera. Sedangkan bangunan tabot menjadi rebutan warga yang menyaksikan ritual tersebut karena diyakini bisa mendatangkan berkah.

Warga yang menyaksikan `tabot tebuang` tahun ini lebih ramai dibandingkan tahun lalu karena bersamaan dengan hari libur para PNS Provinsi Bengkulu, pegawai BUMN, Perbankan serta diliburkannya murid sekolah mulai dari TK hingga SMA sederajat.

Arus lalu lintas kendaraan pun menjadi macet karena banyak warga yang memarkirkan kendaraannya secara sembarangan di pinggir jalan.

Upacara Tabot dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat Bengkulu untuk menyambut Tahun Baru Hijriah dan memperingati gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW bernama Husien dalam perang di Padang Karbala Irak.

Tabot yang berarti peti mati adalah lambang peti yang berisi jenazah Husien yang diarak KKT Bengkulu untuk mengikuti ritual Tabot Tebuang pada 10 Muharam menuju pemakaman Karabela yang mencerminkan kawasan Karbala di Irak. (ANTARA)

Editor: Helti Marini S
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar