Namun, tidak semua warga Iran mengecam serangan AS. Sejumlah diaspora dan oposisi di dalam negeri justru menyambut serangan itu sebagai peluang untuk menjatuhkan rezim teokratis yang berkuasa. Hal ini memicu kecaman keras dari otoritas Iran.
Elias Hazrati, kepala dewan komunikasi Presiden Masoud Pezeshkian, dalam wawancara dengan televisi pemerintah menyebut mereka yang mendukung AS dan Israel sebagai “oposisi yang tidak terhormat.”
Sementara itu, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengeluarkan ultimatum bahwa siapa pun yang bekerja sama dengan Israel atau AS harus menyerahkan diri sebelum akhir Minggu atau akan dianggap sebagai kolaborator musuh dan dikenakan “hukuman terberat.”
Sejak awal perang, beberapa individu telah dieksekusi atas tuduhan memata-matai untuk Israel, termasuk satu orang yang dihukum dan dihukum mati pada Minggu pagi.
Serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran tak hanya meningkatkan risiko konflik militer terbuka di kawasan, tetapi juga memperuncing ketegangan internal dalam negeri Iran.
Pewarta: Vonza Nabilla SuryawanEditor : Anom Prihantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.