Rejang Lebong, Bengkulu (ANTARA) - Wakil Bupati Rejang Lebong, Hendri Praja, mendorong penanganan stunting dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan berbagai sektor, menyusul angka stunting di daerah ini yang tertinggi di Provinsi Bengkulu.
“Penurunan stunting tidak bisa hanya bertumpu pada sektor kesehatan. Ini juga menyangkut pendidikan, sanitasi, dan pola asuh dalam keluarga,” kata Hendri di Rejang Lebong, Selasa (30/7).
Hendri yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Rejang Lebong mengatakan, prevalensi stunting di wilayahnya pada 2024 mencapai 28,6 persen atau tertinggi di Provinsi Bengkulu.
Pemkab Rejang Lebong, lanjut dia, telah mengimplementasikan berbagai intervensi, mulai dari edukasi gizi untuk ibu hamil dan anak, peningkatan akses air bersih, hingga layanan kesehatan dasar, terutama di wilayah rawan stunting.
“Kami juga memperkuat sinergi antar-OPD hingga ke tingkat desa dan kelurahan agar program penurunan stunting berjalan efektif,” ujarnya.
Target penurunan stunting pada 2025 dipatok 14 persen. Untuk itu, ia meminta seluruh unsur TPPS mengintensifkan pengawasan dengan melibatkan tim pendamping keluarga (TPK), bidan desa, kader BKB, ahli gizi, dan kader Posyandu.
“Pemantauan kesehatan ibu hamil, bayi baru lahir, dan balita harus dilakukan minimal pada 80 persen populasi melalui Posyandu,” kata Hendri.
Stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan pada anak balita yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, terutama selama 1.000 hari pertama kehidupan, mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Anak yang mengalami stunting biasanya memiliki postur tubuh lebih pendek dari standar usianya dan berisiko mengalami hambatan dalam perkembangan otak serta rendahnya tingkat produktivitas di masa depan.
Dampak stunting tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga dapat mengganggu kemampuan belajar, melemahkan daya tahan tubuh, dan menurunkan kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Oleh karena itu, penanggulangan stunting menjadi fokus utama dalam upaya peningkatan kualitas generasi penerus bangsa.
Percepatan penurunan stunting dilakukan melalui dua jenis intervensi, yakni spesifik dan sensitif. Intervensi spesifik menargetkan langsung penyebab utama gizi buruk, seperti pemberian makanan tambahan dan suplemen gizi. Sementara intervensi sensitif mencakup peningkatan akses terhadap air bersih, fasilitas sanitasi, layanan kesehatan, serta edukasi dan pendampingan di bidang pendidikan.
Pewarta: Nur MuhamadEditor : Anom Prihantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.