Rejang Lebong, Bengkulu (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu menyusun strategi untuk menurunkan angka stunting di wilayah itu dari 24,7 persen menjadi di bawah 10 persen.
"Stunting di Kabupaten Rejang Lebong kita harapkan bisa ditekan hingga satu digit atau di bawah 10 persen. Untuk itu diperlukan intervensi anggaran khusus seperti tahun-tahun sebelumnya," kata Wakil Bupati Rejang Lebong Hendri Praja usai memimpin Rakor Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) daerah itu di Rejang Lebong, Jumat.
Dia menjelaskan, seluruh jajaran yang terlibat dalam TPPS diminta untuk bersama-sama melakukan pengawalan, pemeriksaan, dan pengawasan maksimal dengan melibatkan tim TPK, bidan desa, kader BKB, ahli gizi, dan kader posyandu.
Prevalensi stunting Kabupaten Rejang Lebong pada tahun 2024 mencapai 24,7 persen. Angka ini sudah turun dari tahun 2023 yang mencapai 28,6 persen, sedangkan tahun 2022 sebesar 20,2 persen dan tahun 2021 sebesar 26 persen.
"Rapat tadi merupakan tindak lanjut rapat di tingkat Provinsi Bengkulu belum lama ini yang membahas tiga isu strategis, yakni penurunan stunting, pengurangan angka kemiskinan, dan penghapusan kemiskinan ekstrem," terang dia.
Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3APPKB) Rejang Lebong Agusti Al Ansar menjelaskan strategi penurunan stunting tahun ini akan dilaksanakan secara kolaboratif lintas OPD.
"Anggaran program ini tersebar di beberapa pos, termasuk Dana Alokasi Khusus atau DAK tahun 2025 yang besarannya hampir sama dengan tahun 2024 yakni sebesar Rp4,3 miliar," katanya.
Menurut dia, kendati anggaran penanganan stunting yang dikucurkan pemerintah pusat dalam beberapa tahun terakhir lumayan besar, namun angka stunting sebaliknya masih naik, sehingga perlu strategi baru.
"Setiap OPD maupun Baznas, Kemenag, dan Loka POM diminta menyiapkan langkah konkret, baik melalui penggunaan anggaran, sosialisasi, pemberian makanan tambahan, maupun program lainnya," tambah dia lagi.
Pewarta: Nur MuhamadUploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.