Untuk itu, ada dua jalur besar yang harus ditempuh, yakni penguatan ekonomi makro dan optimalisasi ekonomi mikro. Dari sisi makro, stabilitas fiskal dan moneter menjadi harga mati. Defisit APBN harus dijaga di bawah 3% PDB dengan fokus pada pembiayaan produktif seperti infrastruktur, pendidikan, dan riset teknologi. Transformasi energi menuju sumber terbarukan perlu dipercepat untuk mengurangi ketergantungan pada fosil dan menjaga daya saing jangka panjang.
Sementara dari sisi mikro, penguatan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi harus diprioritaskan. Data Kemenkop UKM menunjukkan UMKM menyumbang lebih dari 60,5% PDB dan menyerap 97% tenaga kerja. Sehingga melalui berbagai upaya digitalisasi usaha, akses pembiayaan murah, serta peningkatan kualitas SDM, semua itu akan menjadi katalis agar UMKM Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas ke pasar global.
Sejumlah peluang besar juga terbentang menjelang 100 tahun Indonesia merdeka,. Bonus demografi dengan 70% penduduk berada pada usia produktif hingga 2035 memberikan potensi pertumbuhan tinggi. Syaratnya, investasi pada pendidikan, kesehatan, dan keterampilan kerja harus menjadi prioritas.
Tantangan lain adalah transisi menuju ekonomi hijau. Indonesia memiliki potensi energi terbarukan lebih dari 400 GW, tetapi pemanfaatannya masih di bawah 2%. Transformasi menuju ekonomi rendah karbon bukan hanya komitmen iklim, tetapi juga peluang menciptakan jutaan lapangan kerja baru.
Selanjutnya sektor fiskal perlu terus diperkuat. Tax ratio yang stagnan harus ditingkatkan melalui digitalisasi perpajakan, perluasan basis pajak, dan peningkatan kepatuhan. Tanpa basis fiskal yang kuat, pembiayaan pembangunan akan bergantung pada utang, yang berisiko menekan APBN di masa depan.
Perjalanan ekonomi Indonesia selama 80 tahun adalah kisah tentang daya tahan, adaptasi, dan tekad untuk terus maju. Dari negara agraris pasca kemerdekaan hingga ekonomi digital yang terkoneksi global. Kemajuan ini bukanlah akhir, melainkan batu loncatan untuk menggapai kemajuan berikutnya.
Seperti yang pernah diungkapkan Bung Karno mengenai jas merah yaitu jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Karena dari sejarah itulah kita belajar bahwa kemandirian ekonomi dan keadilan sosial bukan hanya tujuan, tetapi fondasi kemerdekaan yang sejati.
*) Dr. M. Lucky Akbar adalah Kepala Kantor Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan Jambi, Kementerian Keuangan
Pewarta: Lucky Akbar *)Uploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.