Selasa, 17 Oktober 2017

Dompet Dhuafa Tanam 500 Mangrove Di Pulau Tikus

id Mangrove, Pulau Tikus
Dompet Dhuafa Tanam 500 Mangrove Di Pulau Tikus
Penanaman mangrove di Pulau Tikus. (Foto Antarabengkulu.com/Helti)
Bengkulu (Antara) - Organisasi nirlaba Dompet Dhuafa bersama Komunitas Mangrove Bengkulu menanam 500 batang mangrove jenis "Rhizophora stylosa" di pesisir Pulau Tikus, pulai kecil tak berpenghuni berjarak 10 mil dari Kota Bengkulu.

"Penanaman mangrove ini untuk benteng laut dari ancaman abrasi dan dalam jangka panjang bagian dari mitigasi bencana," kata Direktur Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, Syamsul di Bengkulu, Rabu.

Ia mengatakan penanaman mangrove dengan sistem paralon merupakan uji coba untuk menumbuhkan ekosistem mangrove baru di Pulau Tikus.

Pulau Tikus yang merupakan pulau kecil dengan daratan 0,6 hektare terus menyusut akibat abrasi. Luas daratan pulau tak berpenghuni itu sebelumnya mencapai 2 hektare.

Pengikisan daratan pulau tersebut menurut dia menjadi sistem peringatan dini alami tentang pentingnya pelestarian pesisir.

"Kalau Pulau Tikus hilang atau tenggelam berarti ada masalah besar yang menghantui kehidupan di wilayah Bengkulu," ucapnya.

Selain sebagai benteng penahan gelombang tinggi dari Samudera Hindia, Pulau Tikus menurut dia juga strategis bagi nelayan tradisional yang mengandalkan perairan sekitar pulau tikus yang ditopang terumbu karang seluas 200 hektare untuk menangkap ikan.

Karena itu, Dompet Dhuafa melalui program Sedekah Pohon menggandeng komunitas lokal untuk menanam mangrove sebagai benteng hijau pulau.

"Sebenarnya ini di luar kelaziman Dompet Dhuafa, tapi kami melihat lingkungan adalah perantara dalam menciptakan kemiskinan. Lingkungan rusak memicu kemiskinan yang lebih parah, terutama bagi nelayan," tuturnya.

Koordinator Komunitas Mangrove Bengkulu, Riki Rahmansyah mengatakan mangrove yang ditanam adalah jenis Rhizophora stylosa yang merupakan jenis pionir di lingkungan pesisir atau pada bagian daratan dari mangrove.

"Mangrove jenis Rhizophora stylosa ini mampu tumbuh di substrat karang, seperti yang ada di Pulau Enggano," ujarnya.

Ia menambahkan, penanaman dengan sistem paralon atau `Riley Encased Methodology` yakni memasukkan bibit ke dalam paralon yang ditancapkan di pinggir pulau. Tujuan penamanan dalam paralon untuk menghindari bibit hanyut terbawa arus dan gelombang tinggi.***3***

Editor: Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga