Kota Bengkulu (ANTARA) - Media sosial Indonesia dalam sepekan terakhir dipenuhi dengan warna yang sama: pink dan hijau. Bukan tanpa alasan, kedua warna ini kini menjadi simbol baru gerakan rakyat setelah tragedi demonstrasi 28 Agustus 2025.
Tren ini tumbuh secara organik tanpa instruksi terpusat dan menjelma sebagai bentuk solidaritas bersama.
Dari feed Instagram hingga unggahan di platform lainnya, dua warna tersebut menjadi latar, bingkai, dan elemen desain visual yang menggambarkan sikap masyarakat terhadap situasi politik dan sosial yang sedang bergejolak.
Pink yang disebut sebagai “pink pemberani” terinspirasi dari sosok Ibu Ana, seorang perempuan dengan hijab merah muda yang berdiri tegak menghadapi aparat bersenjata lengkap.
Sikap tenang dan keberaniannya di tengah ketegangan membuatnya menjadi ikon baru perlawanan sipil.
Di sisi lain, hijau yang kemudian disebut “hijau heroik” dipersembahkan untuk mengenang Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek daring yang tewas setelah terlindas kendaraan taktis aparat saat kerusuhan pecah.
Baca juga: Komnas HAM kumpulkan rekaman CCTV untuk cek fakta soal kematian Affan
Baca juga: Mendagri serahkan rumah untuk keluarga Affan Kurniawan
Kehilangan Affan menjadi luka mendalam sekaligus pengingat bahwa perjuangan rakyat sering kali dibayar mahal.
Dikutip dari Machung Academy yang membahas soal pink dan hijau tersebut, dua warna itu ternyata menyimpan makna yang lebih dalam. Penelitian klasik Louis B. Wexner (1945) dan Frank H. Mahnke (1996) menunjukkan bahwa warna mampu membentuk emosi kolektif.
Pewarta: Vonza Nabilla SuryawanEditor : Anom Prihantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.