Kota Bengkulu (ANTARA) - Jika berkunjung ke Bengkulu, jangan lupa mencicipi kuliner khas lemang tapai. Hidangan ini memadukan gurihnya beras ketan yang dimasak dalam bambu dengan manis-asamnya tapai ketan hitam. Bagi beberapa unsur masyarakat Bengkulu, lemang tapai bukan sekadar makanan, melainkan simbol tradisi, kebersamaan, dan daya tarik kuliner yang membuat wisatawan ingin kembali menikmatinya.
Meski identik dengan Bengkulu, lemang tapai juga ditemukan di daerah lain yang memiliki akar budaya Melayu, seperti Sumatera Barat. Persebarannya mirip dengan kuliner empek-empek yang tidak hanya terkenal di Palembang, tetapi juga di Bangka Belitung, Bengkulu, dan Lampung.
Sejarah Lemang di Asia Tenggara
Di balik cita rasanya yang legit dan teksturnya yang lembut, lemang menyimpan sejarah panjang di Asia Tenggara. Tradisi memasak beras dalam bambu sudah dikenal sejak zaman Proto-Melayu dan Deutero-Melayu, lalu berkembang menjadi bagian penting dalam berbagai perayaan adat. Istilah lemang sendiri berasal dari bahasa kuno yang berarti memasak dalam tabung bambu hijau.
Proto-Melayu adalah kelompok etnis Melayu tua yang pertama kali bermigrasi ke Asia Tenggara ribuan tahun lalu, sedangkan Deutero-Melayu adalah kelompok migran Melayu yang datang lebih belakangan.
Di Bengkulu, lemang bahkan menjadi hantaran wajib dalam upacara perkawinan suku Besemah di Kabupaten Kaur. Hal ini menegaskan nilai budaya yang melekat kuat di setiap potongan lemang, bukan hanya sebagai panganan tetapi juga simbol penghormatan.
Baca juga: Kuliner Indonesia jadi tema spesial di hotel bintang 5 Beijing
Baca juga: Pemkot Bengkulu canangkan Pasar Barukoto jadi sentra kuliner
Tapai sebagai Pasangan Lemang
Tapai yang dipadukan dengan lemang dibuat dari ketan hitam yang difermentasi menggunakan ragi, menghasilkan rasa manis dengan sedikit asam. Kombinasi lemang dan tapai menghadirkan cita rasa unik sekaligus memperkuat makna kebersamaan dalam budaya masyarakat Bengkulu.
Pewarta: Mifta Bunga AnggrainiEditor : Anom Prihantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026