Meski begitu, Halaby tetap optimis. Pengalaman pengusiran dan penolakan justru menguatkan posisinya sebagai seniman yang bersuara lewat warna dan bentuk.
Seni Sebagai Analisis, Bukan Propaganda
Halaby menolak anggapan bahwa seni hanya ekspresi diri. Baginya, seni adalah kerajinan yang menuntut pengetahuan ilmiah, dari cahaya, fisiologi mata, hingga manajemen warna.
“Bisa bayangkan kalau Paus bilang ke Michelangelo, ‘Nak, ekspresikan dirimu di langit-langit Kapel Sistina’? Itu bukan ekspresi diri, itu kerja serius,” katanya sambil tertawa.
Abstraksinya, menurut Halaby, justru disukai orang karena mereka melihat refleksi dunia nyata di dalamnya. Dengan cara yang sama, ia menganalisis kondisi politik global.
Tentang mantan Presiden AS Donald Trump yang kerap menyerang kebebasan berbicara, Halaby melontarkan analogi tajam: “Trump itu seperti lalat yang buang kotoran di punggung unta. Kita memang terganggu, tapi dunia ini terlalu besar untuk diatur oleh seekor lalat.”
Baca juga: Inggris akan akui negara Palestina setelah Trump pulang
Baca juga: Luksemburg akan akui Negara Palestina pada September 2025
Kini, dengan penghargaan internasional yang ia terima, Samia Halaby bukan hanya dikenang sebagai pelukis abstrak, tetapi juga simbol perlawanan dan kebebasan berekspresi. Karyanya menunjukkan bahwa seni bisa menjadi ruang untuk analisis, kritik, sekaligus harapan di tengah dunia yang penuh konflik.
