Kondisi yang semakin buruk memaksa dua rumah sakit besar di Kota Gaza, termasuk Rumah Sakit Anak Al-Rantissi, untuk menghentikan layanan. Rumah Sakit Mata St. John juga tidak lagi berfungsi. “Tidak ada rumah sakit atau fasilitas medis yang benar-benar aman,” kata Kementerian Kesehatan Gaza dalam pernyataan resmi, menyebutkan bahwa penghancuran fasilitas medis ini merupakan kebijakan sistematis untuk melumpuhkan layanan kesehatan di Gaza.
Meski nyawa mereka terancam, para dokter di Al Shifa, termasuk Dr. Muhammad Abu Salmiya selaku direktur rumah sakit, menegaskan bahwa mereka tidak akan meninggalkan pasien-pasien mereka. “Kami tetap melayani pasien dan yang terluka dengan kemampuan terbaik, meski di bawah tekanan luar biasa,” ujar Dr. Salmiya.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 65.000 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan Israel, dengan ratusan ribu lainnya terluka. Situasi semakin diperburuk dengan blokade yang membatasi bantuan kemanusiaan, termasuk makanan dan obat-obatan. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya 440 orang telah meninggal akibat kelaparan.
Kisah Dr. Aziz hanyalah potongan kecil dari tragedi besar yang terus berlangsung di Gaza. Di balik angka korban yang terus bertambah, ada kisah nyata tentang rasa sakit, kehilangan, dan perjuangan bertahan hidup di tengah reruntuhan.
