Bengkulu (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Bengkulu menggelar menggelar Rembuk Merah Putih sebagai wadah meningkatkan dan menjaga kewaspadaan terhadap bahaya radikalisme dan terorisme.
"Dalam upaya menjaga stabilitas dan mencegah potensi konflik, Pemerintah Provinsi Bengkulu menggelar kegiatan Rembuk Merah Putih bertema Menjaga Kewaspadaan Nasional, Cegah Radikalisme dan Terorisme Demi Keutuhan NKRI," kata Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Pemprov Bengkulu, Khairil Anwar, di Bengkulu, Selasa.
Dia mengatakan radikalisme dan terorisme merupakan ancaman serius bagi kesatuan dan perdamaian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), oleh karena itu seluruh elemen di Bengkulu tidak boleh lengah dan abai dengan potensi sekecil apa pun.
"Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi ancaman, menganalisis risiko, serta merumuskan strategi dan kolaborasi untuk pencegahan dan penanganan konflik," kata dia.
Menurut dia kewaspadaan nasional ditekankan sebagai sikap yang lahir dari kepedulian, tanggung jawab, dan perhatian warga negara terhadap kelangsungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dari segala potensi ancaman.
"Saat ini orang sangat mudah mengakses internet untuk berbagai kepentingan, semua informasi ada di sana, mulai dari yang baik hingga yang buruk," kata dia.
Oleh karena terbukanya berbagai saluran dalam jaringan yang bisa mengakses apapun dan diakses siapapun itu pula lah kata dia yang membuat potensi gangguan keamanan akan tetap ada, sekecil apa pun itu.
"Untuk itu, pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan merumuskan strategi dan kolaborasi pencegahan serta penanganan konflik," kata Khairil.
Oleh karena itu Pemerintah Provinsi Bengkulu menghadirkan Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) Bengkulu, Reki Alfian, Kepala Satuan Tugas Wilayah Bengkulu Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian RI Kombes Pol I Wayan Bayuna, Kasubdit Kamneg Dit Intelkam Polda Bengkulu Kompol Andri Anwar, dan Kasi 1 Bidang Intelijen Kejati Bengkulu Oki Permana dan FKUB untuk memberikan wawasan tepat tentang anti radikalisme dan terorisme.
Kabinda Reki Alfian menegaskan ancaman radikalisme dan terorisme dapat diatasi bila seluruh lapisan masyarakat menjunjung tinggi ideologi Pancasila dan mengedepankan kepentingan bersama.
"Bengkulu dikenal dengan warganya yang ramah dan sopan, ideologi Pancasila tertanam dengan baik. Nilai-nilai Pancasila yang universal, seperti musyawarah mufakat, gotong royong, dan kekeluargaan, harus terus dijunjung tinggi. Di ruang publik, termasuk di era digital, kita harus tetap menjunjung adab dan etika," kata Reki.
