Kota Bengkulu (ANTARA) - Ribuan orang kembali memenuhi jalanan utama di Karachi, Pakistan, pada Minggu (29/9), dalam aksi solidaritas besar-besaran untuk Palestina. Demonstrasi ini digelar menjelang peringatan dua tahun serangan brutal Israel di Jalur Gaza, yang hingga kini masih berlangsung dan menimbulkan korban jiwa yang sangat besar.
Di sepanjang Jalan Shara-e-Faisal, salah satu ruas jalan tersibuk di Karachi, massa terlihat membawa bendera Palestina berwarna merah, hijau, putih, dan hitam. Laki-laki, perempuan, hingga anak-anak turut hadir mengenakan keffiyeh, selendang khas Palestina, sembari meneriakkan yel-yel “Hidup Palestina” dan “Hancurkan Israel.”
Demonstrasi ini dipimpin oleh Jamaat-e-Islami (JI), partai politik Islam arus utama di Pakistan, yang dalam beberapa bulan terakhir konsisten mengorganisir unjuk rasa menentang agresi Israel.
Menurut panitia, lebih dari 100.000 orang hadir dalam aksi tersebut. Namun, sejumlah pengamat independen memperkirakan jumlahnya berkisar 50.000 hingga 60.000 orang. Terlepas dari angka pastinya, aksi ini tetap menjadi salah satu gelombang protes terbesar di Pakistan tahun ini.
Menariknya, demonstrasi tidak hanya dihadiri umat Muslim. Pemimpin komunitas Hindu, Sikh, dan Kristen juga terlihat bergabung. Kehadiran mereka menjadi simbol persatuan lintas agama di Pakistan dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina, dikutip Anadolu.
Sehari sebelumnya, ribuan orang juga turun ke jalan di Lahore, kota terbesar kedua di Pakistan, dalam aksi serupa. Hafiz Naeem-ur-Rehman, Ketua Jamaat-e-Islami, menggunakan sebuah jembatan penyeberangan sebagai panggung pidatonya. Dari sana ia berorasi di hadapan lautan massa.
“Gaza adalah simbol perlawanan. Dua tahun terakhir rakyat Palestina telah menghadapi kebiadaban Israel yang mendapat dukungan Barat. Namun, mereka tetap bertahan,” ujarnya disambut sorakan massa.
Rehman juga memuji Hamas atas “diplomasi cerdas” yang, menurutnya, berhasil menggagalkan upaya Amerika Serikat dan Israel untuk mengisolasi gerakan perlawanan tersebut.
“Rakyat Pakistan berdiri teguh bersama Palestina dan Hamas. Pengorbanan mereka telah membuka mata dunia terhadap wajah asli Israel dan Zionis, bahkan di negara-negara Barat,” tambahnya.
Ia juga mengecam penculikan dan serangan Israel terhadap peserta Global Sumud Flotilla pekan lalu, termasuk di antaranya mantan senator Pakistan, Mushtaq Ahmad Khan.
Sejak pecahnya perang baru pada Oktober 2023, lebih dari 67.000 warga Palestina tewas di Jalur Gaza. Angka ini termasuk ribuan perempuan dan anak-anak.
Data terakhir mencatat, sejak 18 Maret tahun ini, serangan darat dan udara Israel kembali meningkat, menewaskan sedikitnya 13.420 orang dan melukai lebih dari 57.000 lainnya. Gencatan senjata yang sempat tercapai pada Januari runtuh begitu saja.
Selain korban jiwa, ribuan rumah, sekolah, hingga fasilitas kesehatan luluh lantak akibat bom dan serangan rudal. Banyak keluarga kini hidup mengungsi di tenda-tenda darurat dengan pasokan makanan dan obat-obatan yang sangat terbatas.
Kekejaman Israel tidak hanya menuai protes jalanan, tetapi juga telah sampai ke meja hijau hukum internasional. Pada November lalu, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) resmi mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant. Keduanya dituduh melakukan kejahatan perang serta kejahatan terhadap kemanusiaan.
Selain itu, Israel juga sedang menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ), menyusul laporan sejumlah negara dan organisasi HAM yang menilai serangan ke Gaza sudah masuk kategori pembersihan etnis.
Aksi solidaritas di Karachi menjadi bukti nyata bahwa isu Palestina bukan sekadar persoalan politik Timur Tengah, melainkan telah menyentuh hati masyarakat global, termasuk rakyat Pakistan.
“Kami tidak bisa tinggal diam melihat anak-anak dan perempuan dibantai setiap hari. Kehadiran kami di sini untuk menunjukkan bahwa Palestina tidak sendirian,” kata Ahmed, seorang mahasiswa yang ikut berunjuk rasa bersama teman-temannya.
Sementara itu, Fatima, seorang ibu rumah tangga, datang bersama dua anaknya yang masih kecil. “Saya ingin anak-anak saya tahu bahwa berdiri untuk kebenaran itu penting. Palestina adalah bagian dari kita semua,” ujarnya.
Demonstrasi besar-besaran di Karachi ini menegaskan bahwa dukungan terhadap Palestina tetap mengalir deras dari berbagai belahan dunia. Dua tahun sejak serangan Israel dimulai, suara solidaritas justru semakin menguat, tidak hanya dari umat Islam, tetapi juga dari lintas agama dan generasi.
