"Tayangan itu sekaligus melecehkan dan menghina dunia pesantren, serta tokoh-tokoh yang dimuliakan di kalangan NU," kata Zainal Abidin di Palu, Selasa, menanggapi polemik siaran acara tersebut.
Ia menilai isi tayangan tersebut bukan hanya pantas tidak pantas dipertontonkan ke publik, tetapi juga menyentuh batas penghinaan terhadap nilai-nilai luhur yang dijaga dan diwariskan oleh pesantren selama ini.
Penggunaan narasi dan framing dalam tayangan tersebut sangat menyinggung, bahkan membangkitkan kemarahan di kalangan pesantren, khususnya warga NU di seluruh Indonesia.
Baca juga: Tagar boikot Trans7 trending setelah tayangan diduga melecehkan kiai dan pesantren
"Pihak Trans7 dan perusahaan produksi terkait segera mengambil langkah konkret dan terbuka untuk memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan. Tayangan seperti itu tidak boleh dibiarkan, karena berpotensi memecah belah dan merusak tatanan sosial yang harmonis," ujarnya.
Menurut dia, narasinya dalam tayangan itu dapat menimbulkan kegaduhan dan merugikan pesantren yang selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan menanamkan akhlak dan budi pekerti yang luhur.
“Masalah ini harus diselesaikan secara serius dan sebaik-baiknya. Ini bukan sekadar soal nama baik pesantren, tetapi soal kehormatan dan martabat nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin,” tegas Zainal yang juga Ketua FKUB Sulawesi Tengah.

