Selain keindahan alam dan budaya, desa ini juga menyimpan sejarah penting. Pada masa perjuangan kemerdekaan, wilayah Kerinci, termasuk Sekungkung, menjadi jalur strategis pergerakan rakyat karena letaknya yang dikelilingi hutan dan perbukitan. Jejak sejarah tersebut masih dikenang hingga kini oleh para tetua desa.
Sekungkung memang sering mengingatkan orang pada Dieng. Hawa sejuk, sawah bertingkat di kaki bukit, dan kabut yang sering turun tiba-tiba menciptakan suasana khas dataran tinggi. Bedanya, di sini tidak ada fenomena salju tipis atau embun es, namun pesonanya tak kalah memikat.
Rina (22), seorang perempuan asal Lubuk Pinang, yang datang bersama sahabatnya, mengaku terkesan dengan nuansa desa ini.
"Awalnya saya penasaran, ternyata Sekungkung benar-benar indah. Saya merasa seperti masuk ke dunia lain, tenang, hijau, dan udaranya segar banget. Kalau dikelola sebagai destinasi wisata, pasti banyak yang datang," katanya.
Baca juga: Tugu Thomas Parr, jejak perlawanan Bengkulu atas kolonial yang kini jadi cagar budaya
Baca juga: Menikmati sunset senja di Pantai Panjang, Long Beach-nya Bengkulu untuk terapi alam di pesisir barat Sumatera
Belum Digarap Maksimal
Sayangnya, potensi wisata Sekungkung belum tergarap maksimal. Infrastruktur pendukung seperti penginapan atau jalur khusus wisatawan belum tersedia. Padahal, dengan keindahan alamnya, desa ini bisa menjadi destinasi unggulan Kabupaten Kerinci, selain Gunung Kerinci dan Danau Kerinci.
