Tokyo (ANTARA) - Sebanyak 529 pelajar di Jepang meninggal karena bunuh diri pada 2024—angka tertinggi sepanjang sejarah—sementara kasus bunuh diri di kalangan anak muda tetap tinggi, melebihi 3.000 kasus per tahun selama lima tahun berturut-turut.
Hal itu terjadi meskipun secara keseluruhan jumlah bunuh diri di Jepang menurun, menurut Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan seperti dikutip Kyodo.
Laporan White Paper on Suicide Countermeasures edisi 2025 yang disetujui Kabinet pada Jumat menyebutkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang meninggal karena bunuh diri berusia 21 tahun, yang kemungkinan mencerminkan kekhawatiran mereka terkait pencarian kerja atau kelanjutan studi.
Tren itu telah terlihat sejak 2015 pada mahasiswa laki-laki dan sejak 2021 pada mahasiswa perempuan.
Analisis terhadap motif bunuh diri dari 2022 hingga 2024 menunjukkan bahwa seluruh kasus berkaitan dengan kecemasan terhadap masa depan karier.
Laki-laki lebih sering mengalami kegagalan akademik, sementara perempuan lebih banyak dipengaruhi oleh depresi atau gangguan mental lainnya.
Jumlah bunuh diri di kalangan perempuan muda juga meningkat, dengan 40 persen dari mereka yang meninggal di usia 20-an.
