Bengkulu (ANTARA) - WALHI Bengkulu meminta kepolisian agar segera menetapkan pelaku penembakan lima petani Pino Raya Kabupaten Bengkulu Selatan menjadi tersangka.
"Segera menetapkan tersangka. Kepada Kejagung untuk segera menindaklanjuti laporan yang sudah kami sampaikan, kemudian kepada Kementerian ATR BPN mencabut izin PT Agro Bengkulu Selatan karena kami lihat juga telah menelantarkan lahan dan pelanggaran-pelanggaran lainnya," kata Direktur Eksekutif WALHI Bengkulu, Dodi Faisal, di Bengkulu, Jumat.
WALHI Bengkulu Jumat sore 28 November 2025 melakukan konferensi pers terkait kasus penembakan lima petani di Pino Raya yang diduga dilakukan oleh petugas keamanan PT Agro Bengkulu Selatan pada 24 November 2025 lalu.
Dia menyampaikan bagaimana proses lanjutkan kasus penembakan dan konflik agraria antara petani Pino Raya dengan PT ABS, termasuk pasca-kejadian penembakan.
WALHI menjelaskan sebenarnya permasalahan penembakan tidak ujug-ujug terjadi, karena gesekan antara petani dan perusahaan sudah terus berulang sejak awal 2025.
WALHI menyampaikan PT ABS saat ini beraktivitas tanpa izin, oleh karena sejak 2017 izin usaha perusahaan perkebunan tersebut telah berakhir sehingga diduga hingga saat ini perusahaan tidak memiliki izin usaha perkebunan maupun hak guna usaha (HGU).
Gesekan tersebut akhirnya membuat lima petani Pino Raya Kabupaten Bengkulu Selatan menderita luka tembak pada 24 November 2025 lalu.
Kuasa hukum petani Pino Raya Ricki Pratama Putra menjelaskan kepolisian sudah seharusnya segera menetapkan tersangka penembak petani tersebut.
"Saat terjadi upaya pembukaan jalan (di lahan yang berkonflik dengan petani itu), terjadi perdebatan yang tidak berimbang yang pada saat itu berhadap-hadapan dengan Riki (RK) atau terduga penembak adalah ibu-ibu yang tidak menggunakan, tidak memiliki senjata yang berpotensi melukai tapi kemudian terjadi dorong-dorongan dan di situ lah letupan tembakan pertama terjadi," kata dia.
Tembakan pertama yang dilakukan oleh petugas keamanan PT Agro Bengkulu Selatan itu lanjut Ricki juga bukan tembakan peringatan atau tembakan ke udara, melainkan tembakan yang langsung diarahkan kepada warga.
"Dan letupan dan tembakan pertama ini kami yakinkan dan kami pastikan tidak merupakan bentuk tembakan peringatan ke atas, tetapi tembakan yang langsung ke warga, itu tembakan pertama. Nah di tembakan pertama ini lah warga mencoba mengejar untuk merebut senjata api, dan saudara Riki berlari sembari mundur dan tetap melakukan penembakan sebanyak empat kali," ujarnya.
Tembakan pertama melukai sekitar area perut atau dada petani Pino Raya atas nama Buyung. Empat tembakan lainnya mengenai empat orang petani Pino Raya atas nama Linsurman (tertembak di bagian dengkul), Edi Hermanto (tertembak di bagian paha), Santo (tertembak di bagian rusuk bawah ketiak), dan Suhardin (tertembak di bagian betis).
