Bengkulu (ANTARA) - Saat menikmati segarnya sayur atau manisnya buah, kita jarang membayangkan bahwa ada ancaman berbahaya yang mungkin ikut “tersaji” di piring. Merkuri, logam berat beracun, kini menjadi bayang-bayang tak kasat mata yang mengintai tanaman pangan masyarakat. Meski dampaknya sangat luas bagi kesehatan, isu ini masih luput dari perhatian banyak pihak.
Merkuri dapat masuk ke tanaman melalui air dan tanah yang tercemar limbah industri, aktivitas manusia, hingga pertambangan emas ilegal. Tanaman kemudian menyerap dan menyimpan zat berbahaya itu dalam jaringan akar, batang, hingga buah. Artinya, setiap suapan dari pangan terkontaminasi bisa membawa risiko kesehatan jangka panjang.
Sejumlah penelitian menunjukkan bagaimana merkuri telah menyusup ke rantai pangan:
- Muhammad (2018) menemukan merkuri di akar, batang, daun, hingga gabah padi di Desa Wamsait, Buru, lengkap menggambarkan rantai pencemaran dari tambang ke lahan pangan.
- Anindityo dkk. (2022) menyebut kandungan merkuri pada kubis, brokoli, dan selada sekitar 0,002 mg/kg. Meski masih di bawah batas aman, temuan ini mengindikasikan potensi akumulasi jangka panjang.
- Studi Darise dkk. (2025) di Pasar Sentral Gorontalo bahkan mencatat kadar merkuri pada selada mencapai 2,0959 mg/kg (akar), 0,2140 mg/kg (batang), dan 0,4425 mg/kg (daun) atau jauh melampaui batas aman 0,03 mg/kg sesuai BPOM RI.
Secara nasional, laporan Nexus3 Foundation (2025) menunjukkan lebih dari 1.500 ton merkuri dilepaskan ke lingkungan setiap tahun akibat aktivitas Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) di sekitar 190 daerah di Indonesia.
Paparan merkuri dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan saraf, kerusakan ginjal, hingga menurunkan kecerdasan anak.
Baca juga: Update harga emas Antam: Naik ke angka Rp2,416 juta/gram
Baca juga: Tambang emas ilegal di Mandalika telan korban, pemerintah desa pastikan lokasi masuk hutan lindung
Tambang Ilegal dan Lonjakan Harga Emas
Di Indonesia, maraknya Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) ikut memicu peningkatan pencemaran. Lonjakan harga emas dunia membuat tambang-tambang ilegal tumbuh cepat di Kalimantan Barat, Papua, Sulawesi, dan Sumatera.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi emas perhiasan mencapai 10,52 persen pada April 2025, naik dari bulan sebelumnya. Ledakan PETI ini membuat limbah merkuri mengalir ke sungai dan meresap ke sawah serta kebun yang menjadi sumber pangan masyarakat.
