Bengkulu (ANTARA) - Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Sementara itu, pemerintah menetapkan awal puasa pada Kamis, 19 Februari 2026. Perbedaan satu hari ini membuat banyak orang bertanya-tanya.
Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir, Lc., M.A., Ph.D., menjelaskan via laman suara Muhammamadiyah bahwa penetapan tersebut dilakukan berdasarkan perhitungan ilmu astronomi (hisab) dan sistem kalender Islam global.
Banyak yang bertanya, kenapa penetapan awal puasa disebut-sebut karena bulan baru atau hilal terlihat di Alaska, Amerika Serikat? Apakah Indonesia harus mengikuti wilayah yang sangat jauh?
Menurut Rofiq, penetapan itu bukan hanya soal Alaska. Muhammadiyah menggunakan sistem yang disebut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Sistem ini dibuat berdasarkan kajian ilmiah dan disepakati para ahli astronomi Islam dari berbagai negara.
Baca juga: Posisi hilal tak penuhi kriteria MABIMS, awal Ramadhan Kamis
Baca juga: Kemenag Bengkulu sebut hilal awal Ramadhan belum terlihat
Ada dua syarat utama dalam metode ini, yaitu:
1. Tinggi hilal minimal 5 derajat.
2. Jarak sudut bulan dengan matahari (elongasi) minimal 8 derajat.
Pewarta: Vonza Nabilla SuryawanEditor : Anom Prihantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026