Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar mengatakan ada masalah kemiskinan struktural dibalik fenomena banyaknya kasus anak mengakhiri hidup di beberapa wilayah di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir.

"Tragedi demi tragedi yang pahit ini adalah menyisakan perjuangan yang tidak ringan. Masalah utamanya adalah kemiskinan struktural dan kohesi sosial yang terus berusaha kita atasi bersama-sama, sambil kita mengakhiri problematika utama kita, yaitu kemiskinan dan persoalan-persoalan struktural lainnya kita akan terus bekerja secara gotong royong bersama-sama," kata Muhaimin Iskandar dalam acara bertajuk "Meningkatkan Ketahanan Psikososial sebagai Fondasi Pemberdayaan Masyarakat", di Jakarta, Jumat.

Ia juga menyoroti isu kesehatan mental yang sangat mengkhawatirkan.

"Tentu isu kesehatan mental yang sangat mengkhawatirkan dan meresahkan akhir-akhir ini telah membawa peristiwa tragis yang menimpa anak-anak kita," kata Muhaimin Iskandar.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, 28 juta orang Indonesia memiliki masalah kesehatan mental.

"Ini menunjukkan adanya fenomena gunung es yang sangat mengkhawatirkan yang setiap saat akan bisa lebih banyak dan lebih parah lagi. Faktanya pemicu gangguan kesehatan mental cukup kompleks dan multidimensi," kata Muhaimin Iskandar.

Sebelumnya, seorang anak laki-laki berinisial YBR (10) mengakhiri hidup di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis (29/1), yang diduga karena himpitan ekonomi keluarga.

Dua pekan berselang, seorang anak perempuan berusia 14 tahun diduga mengakhiri hidup di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Peristiwa nahas yang merenggut nyawa remaja perempuan itu terjadi pada Kamis (12/2). Korban ditemukan pertama kali oleh bibinya.

Di hari yang sama, seorang anak perempuan berusia 13 tahun mengakhiri hidup di Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Kematian korban diketahui pertama kali oleh ibunya.

Polres Demak menemukan adanya tangkapan layar pesan WhatsApp korban yang berisi percakapan kasar diduga dari ibu korban.

Kemudian pada Senin (16/2), seorang siswi SMA berusia 17 tahun mengakhiri hidup di rumahnya di Kabupaten Flores Timur, NTT.



Pewarta: Anita Permata Dewi
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026