Bengkulu (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan tingkat inflasi Provinsi Bengkulu pada Februari 2026 tercatat sebesar 0,66 persen, masih dalam rentang kendali sesuai dengan target nasional.
"Secara month to month (Bulan ke bulan) Februari kita inflasi 0,66 persen, tetapi secara year to date (tahun kalender) kita masih 0,10 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu Win Rizal di Bengkulu Senin.
Dia menjelaskan pada awal 2026 ini terutama terjadi pada Januari terjadi deflasi sebesar 0,75 persen (mtm) sehingga situasi inflasi tahun kalender masih berada di posisi aman di 0,10 persen (ytd).
Namun, kata dia para pihak juga perlu memperhatikan angka tahunan (Februari 2025-Februari 2026) inflasi Bengkulu yang mencatatkan angka 3,88 persen secara tahunan (yoy).
Hal tersebut menjadi peringatan karena berada pada batas atas rentang target nasional yang telah ditetapkan. Win Rizal mengatakan saat ini situasi daerah sedang menuju puncak hari besar keagamaan nasional (HBKN) Idul Fitri 2026 yang akan mendorong sektor konsumsi jauh lebih tinggi dibandingkan hari biasanya.
Win Rizal menilai perlunya ada langkah-langkah antisipasi menjamin kecukupan pasokan komoditas dan stabilitas harga agar tidak menimbulkan tekanan pada angka inflasi daerah.
"Secara agregat inflasi year on year sebesar 3,88 persen masih berada pada level yang aman dan menunjukkan stabilitas harga di daerah tetap terjaga. Namun saat ini memasuki Maret yang bertepatan dengan Ramadhan dan menjelang Lebaran," kata dia.
Beberapa yang menjadi perhatian pada Februari ini yakni harga komoditas dan pasokan dari luar wilayah Bengkulu pada beberapa komoditas, serta meningkatnya permintaan menjelang Ramadhan-Lebaran menyebabkan cabai merah dan tomat mengalami kenaikan harga.
Harga daging ayam ras, ayam hidup, dan daging sapi di pasaran mengalami kenaikan karena meningkatnya permintaan. Kemudian, tren kenaikan harga emas dunia terus berlanjut dan juga ikut mendorong kenaikan harga emas di Provinsi Bengkulu.
Peningkatan produksi komoditas perkebunan kopi karena memasuki masa panen, mendorong penurunan harga terutama di tingkat produsen. Komoditas kelapa sawit juga mengalami penurunan harga dibandingkan Januari 2026.
Situasi tersebut mesti dikendalikan agar tidak mendorong angka inflasi menjadi lebih tinggi pada periode HBKN kali ini.
Harga beras di tingkat produsen, perdagangan besar, dan konsumen cenderung menunjukkan tren cukup baik, mengalami penurunan karena beberapa wilayah sudah memasuki masa panen.
"Kecukupan komoditas di pasar harus dijaga agar harganya tetap stabil, tidak ada kenaikan harga (di tingkat pedagang eceran dan konsumen)," ujarnya.
Pewarta: Boyke Ledy WatraUploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026