Bengkulu (ANTARA) - Badan Pusat Statistik menyebutkan sejumlah komoditas pokok dari cabai merah hingga bawang merah mampu menahan laju inflasi Provinsi Bengkulu pada Maret 2026.

"Cabai Merah mengalami deflasi 0,13 persen atau minus 0,13 persen, angkutan udara 0,04 persen, tomat 0,03 persen, bawang merah dan cabai rawit masing-masing 0,02 persen. Ini komoditas yang dominan memberikan andil deflasi," kata Kepala BPS Provinsi Bengkulu Win Rizal di Bengkulu, Rabu.

Peningkatan produksi dan pasokan dari dalam maupun luar daerah pada beberapa komoditas hortikultura, seperti cabai merah, cabai rawit, tomat, dan sawi, mendorong penurunan harga di pasaran.

Kemudian, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami deflasi pada Maret 2026, kelompok tersebut dicatat mengalami deflasi sebesar 0,3 persen.

Inflasi Provinsi Bengkulu pada Maret 2026 dicatat sebesar 0,28 persen (mtm) atau melambat dari 0,66 persen pada Februari 2026. Kemudian, inflasi tahunan (yoy) pada Maret dicatat sebesar 2,85 persen, dan inflasi tahun kalender (ytd) sebesar 0,17 persen.

"Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah daging ayam ras, sigaret kretek mesin (SKM) dan ikan dencis dengan andil masing-masing sebesar 0,50 persen, 0,15 persen, dan 0,11 persen," kata dia lagi.

Meningkatnya permintaan selama Ramadhan dan Lebaran kata dia mendorong kenaikan harga daging ayam ras, ayam hidup, dan daging sapi di pasaran.

Catatan inflasi pada Maret 2026 tersebut menurut Win Rizal masih dicatat cukup baik dan berada pada rentang target nasional 2,5 plus minus 1 persen (yoy).

Meskipun catatan inflasi cukup baik di Provinsi Bengkulu, Win Rizal tetap mengingatkan agar seluruh pihak tetap perhatian merujuk perkembangan situasi pasar ke depan, termasuk kondisi global.



Pewarta: Boyke Ledy Watra
Editor : Anom Prihantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026