Kota Bengkulu (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu, Provinsi Bengkulu menegaskan agar seluruh tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas kesehatan tingkat pertama yaitu puskesmas agar dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang datang untuk berobat dan lainnya.
Harapannya, dengan memberikan pelayanan yang prima dan ramah kepada masyarakat dapat memberikan rasa nyaman saat hendak berobat agar lebih cepat sembuh.
"Orang yang datang (ke puskesmas) disambut dengan senyum, bertanya dengan nada lembut dan menatap wajah masyarakat. Saya ajarkan betul bagian pelayanan tolong layani dengan sepenuh hati. Ini bukan basa basi atau wacana tapi saya minta betul," kata Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi di Bengkulu, Senin.
Jika ada laporan masyarakat adanya pelayanan kesehatan yang tidak ramah diimbau untuk dilaporkan agar dapat diberikan sanksi.
Untuk itu, terang Dedy, dirinya akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah puskesmas yang ada di Kota Bengkulu guna memastikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat dilakukan secara optimal.
Hal tersebut dilakukan agar masyarakat lebih memilih berobat ke fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas daripada ke rumah sakit.
"Untuk petugas kesehatan agar dapat memastikan ketersediaan obat di puskesmas dengan menganggarkan dana yang telah disediakan oleh pemerintah daerah," terang Dedy.
Selain itu, Pemkot Bengkulu juga telah memperluas layanan skrining dan pengobatan di berbagai fasilitas kesehatan guna meningkatkan deteksi dini sekaligus memastikan pasien HIV mendapatkan penanganan yang tepat dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu Nelli Hartati menerangkan bahwa saat ini sebanyak 20 puskesmas di daerah itu telah dapat melaksanakan skrining HIV, untuk layanan deteksi dini juga didukung oleh enam rumah sakit pemerintah, lima rumah sakit swasta, serta 51 klinik yang turut berperan aktif.
Dari seluruh fasilitas tersebut, terdapat 21 layanan kesehatan yang dapat memberikan pengobatan HIV, dan fasilitas tersebut berasal dari sembilan rumah sakit, tiga klinik, dan sembilan puskesmas.
Hal tersebut dilakukan sebab pada periode Januari hingga Maret 2026 tercatat sebanyak 32 kasus baru masyarakat di Kota Bengkulu yang terinfeksi virus HIV.
"Keterlambatan penanganan sering disebabkan oleh stigma yang masih dirasakan oleh penderita. Banyak yang khawatir dan takut diketahui orang lain, sehingga enggan memeriksakan diri. Akibatnya, saat datang ke fasilitas kesehatan, kondisi sudah dalam tahap lanjut dan lebih sulit ditangani," ujar dia.
Pewarta: Anggi MayasariUploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026