Bengkulu (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu menyiapkan langkah strategis untuk mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas harga bahan pangan menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

"Kita perlu memastikan kesiapan menghadapi Idul Adha, terutama dalam menjaga ketersediaan dan kelancaran distribusi bahan pangan," kata Asisten II Bidang Pembangunan dan Ekonomi Setda Provinsi Bengkulu RA Denni di Bengkulu, Selasa.

Dia menegaskan dinamika global yang tidak menentu berpotensi memengaruhi stabilitas harga dan pasokan di daerah, sehingga diperlukan langkah antisipatif sejak dini.

Menurut dia, pemerintah daerah tidak boleh lengah terhadap potensi kekurangan pasokan yang dapat berdampak langsung pada masyarakat.

"Kita ingin memastikan seluruh pihak bergerak bersama sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dan harga tetap terkendali,” katanya.

Sejumlah upaya yang telah dilakukan beberapa waktu belakang seperti upaya memastikan kecukupan pasokan, menjaga rantai distribusi komoditas agar tetap lancar hingga ke tingkat pasar, kerja sama antara daerah, dan tentunya juga memastikan serta mengambil langkah-langkah antisipasi terhadap situasi cuaca belakangan ini.

Kemudian Pemerintah Provinsi Bengkulu pada saat hari besar keagamaan nasional (HBKN) bersama para pihak juga menyediakan pasar murah sebagai upaya menjaga pasokan komoditas, dan menyediakan harga bahan pokok terjangkau bagi masyarakat.

Sementara itu, Deputi Perwakilan Bank Indonesia Irfan menyampaikan bahwa inflasi nasional pada Maret 2026 tercatat sekitar 3,48 persen secara tahunan dan masih berada dalam kisaran target nasional.

Dia menjelaskan kondisi tersebut didukung oleh stabilnya inflasi inti serta menurunnya tekanan pada kelompok harga pangan bergejolak dan harga yang diatur pemerintah.

Di Provinsi Bengkulu, inflasi bulanan tercatat sekitar 0,28 persen akibat meningkatnya permintaan selama Ramadhan dan Idul Fitri, sedangkan inflasi tahunan berada di kisaran 2,85 persen.

Beberapa komoditas seperti cabai merah, bawang merah, dan minyak goreng mengalami kenaikan harga, sedangkan beras, daging ayam, dan telur relatif stabil berkat intervensi pemerintah dan kelancaran distribusi.

Namun demikian, komoditas pangan seperti beras dan cabai masih menjadi penyumbang utama inflasi, terutama karena tantangan distribusi dan pasokan antar daerah.

Ke depan, inflasi di Provinsi Bengkulu diperkirakan tetap terkendali dalam kisaran target, meskipun terdapat sejumlah risiko seperti peningkatan permintaan musiman, kenaikan biaya energi dan transportasi, serta potensi gangguan produksi akibat fenomena El Nino.



Pewarta: Boyke Ledy Watra
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026