Jakarta (ANTARA) - Suasana duka menyelimuti Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cipayung, Jakarta Timur, Rabu siang, saat jenazah salah satu korban kecelakaan antara kereta Commuter Line dan Kereta Diesel (KRD) jarak jauh di Stasiun Bekasi Timur atas nama Harum Anjasari (27) dimakamkan.

Harum sebelumnya diidentifikasi pada Selasa (28/4) setelah sempat dinyatakan hilang pascakecelakaan tersebut. Proses pemakaman berlangsung penuh haru, diiringi tangis keluarga dan kerabat yang mengantar korban ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Isak tangis pecah ketika jenazah perlahan diturunkan ke dalam liang lahat. Keluarga mengaku sangat terpukul atas kepergian Harum yang begitu mendadak.

Baca juga: Korban meninggal insiden tabrakan kereta di Bekasi Timur bertambah jadi 16 orang

Ibu korban, Sri Lestari menceritakan detik-detik ia mengetahui kabar duka tersebut. Dia mengaku menerima informasi dari suami Harum pada Senin (27/4) pukul 22.00 WIB, namun baru mengetahui kabar kecelakaan itu beberapa jam kemudian setelah membuka telepon genggamnya.

"Saya dapat kabar duka jam 10 (malam) dari suaminya Harum, tapi saya tidak sempat angkat karena sudah tidur. Baru tahu sekitar jam 12 malam, setelah saya telepon balik. Suaminya bilang, Harum ada di gerbong kereta yang kecelakaan," kata Sri Lestari dengan suara bergetar.

Setelah itu, keluarga langsung melakukan pencarian ke berbagai rumah sakit. Namun, mereka tidak menemukan nama Harum dalam daftar korban karena identitasnya tidak lengkap.

Baca juga: Terkait usulan Menteri PPPA, pengamat sebut pindah gerbong wanita bukan solusi, nyawa setiap orang sama berharga

Dompet dan tas korban hilang, sementara hanya telepon genggamnya yang ditemukan oleh petugas pemadam kebakaran.

"Kami cari ke mana-mana, ke setiap RSUD, tapi namanya tidak ada. Identitasnya juga tidak ada, karena dompet dan tasnya hilang. Hanya HP yang ditemukan damkar," ujar Sri.

Upaya pencarian itu akhirnya mengarah ke Rumah Sakit Polri, tempat keluarga diminta menyerahkan data antemortem untuk proses identifikasi. Data yang diberikan meliputi foto yang terlihat gigi, golongan darah, hingga ijazah dengan cap sidik jari.

"Sore harinya, baru kami dapat kabar kalau anak saya sudah meninggal," ucap Sri.

Baca juga: Kecelakaan kereta Bekasi, Kemenhub panggil manajemen taksi Green SM

Ia pun mengenang percakapan terakhir dengan putrinya yang terjadi beberapa hari sebelum kejadian. Saat itu, Harum sempat mengungkapkan keinginannya untuk pulang ke rumah orang tuanya.

"Hari Senin (27/4) siang, masih komunikasi. Dia bilang kangen dan ingin pulang ke rumah. Saya bilang, kalau sudah tidak kuat, pulang saja, pintu selalu terbuka. Dia bilang, mau pulang hari Jumat, tapi ternyata sebelum itu dia sudah pulang ke hadapan Allah," ungkap Sri.

Kepergian Harum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Mereka mengaku tidak menyangka kehilangan tersebut terjadi begitu cepat dan tanpa tanda-tanda.



Pewarta: Siti Nurhaliza
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026