Kota Bengkulu (ANTARA) - Ornamen motif pada rumah adat Melayu Bengkulu bukan sekadar hiasan kayu yang menempel di dinding. Ia adalah simbol kearifan lokal, filosofi kehidupan, dan bukti keharmonisan antara manusia dengan alam. Saat ini, warisan budaya tak benda tersebut menemukan wadah baru untuk tetap lestari, yaitu melalui kain batik.

Inovasi ini dikenal dengan Batik Les Plank. Sesuai namanya, batik ini mengadaptasi motif-motif ukiran permanen yang biasanya menyatu dengan bangunan rumah adat ke dalam bentuk wastra kreatif.

Secara taksonomi, ornamen rumah adat Bengkulu terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu bagian atas (atap), bagian tengah (dinding, jendela, pintu), dan bagian bawah (tiang atau kolom). Setiap goresannya pun mengandung makna yang mendalam.

Batik Les Plank. (Chairil Ansyorie)

Inovasi Batik Les Plank mengangkat motif-motif ikonik seperti Angin Belitung dan Pohon Hayat. Keindahan ini semakin diperkuat dengan simbolisme warna yang digunakan. Dimulai dari warna merah bata yang melambangkan keberanian, kuning emas mencerminkan kebijaksanaan, dan hitam pekat menjadi simbol kemuliaan.

Yukey Anggraini, salah satu penjual Batik Les Plank, mengungkapkan ide ini muncul dari keinginan untuk mengabadikan keindahan ornamen rumah adat agar lebih dekat dengan masyarakat.

Baca juga: Pemkot Bengkulu gelar karnaval Batik Besurek
Baca juga: Belungguk Point Bengkulu tuai pro kontra warganet. Begini ceritanya!

"Hiasan motif pada rumah adat memberikan keindahan pada bangunan. Jika motif tersebut diabadikan pada kain, maka Les Plank ini akan memperindah orang yang memakainya," ujar Yukey.

Saat ini, produksi Batik Les Plank dilakukan secara rumahan dengan teknik cap yang motifnya telah dibentuk khusus sesuai ukiran asli rumah adat.



Pewarta: Chairil Ansyorie
Editor : Anom Prihantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026