Bengkulu (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu menyarankan pemerintah daerah setempat memperkuat produksi pangan lokal terutama komoditas hortikultura guna mengantisipasi lonjakan inflasi hingga akhir tahun 2026.
"Kalau untuk hortikultura kan harusnya bisa. Lebong, Curup, Kepahiang (Kabupaten Lebong, Rejang Lebong, dan Kabupaten Kepahiang) itu kan punya potensi untuk hortikultura,” kata Kepala BPS Provinsi Bengkulu Win Rizal di Bengkulu, Selasa.
Dia mengatakan penguatan produksi pangan lokal diperlukan karena inflasi Bengkulu pada Mei 2026 telah mulai menunjukkan tren kenaikan yang kini berada pada 0,86 persen atau lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 0,28 persen. Sementara, lanjut dia pada Maret dan April 2026 inflasi Bengkulu berada pada angka 0,28 persen dan 0,35 persen (mtm).
Menurut dia, inflasi dipicu sejumlah faktor seperti momentum Hari Raya Idul Adha, kenaikan tarif transportasi udara, penyesuaian harga bahan bakar minyak, hingga terganggunya pasokan komoditas hortikultura akibat cuaca yang tidak menentu.
Win Rizal menjelaskan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah juga membuat harga pangan mudah mengalami kenaikan ketika distribusi terganggu. Karena itu, daerah perlu memperkuat kemampuan produksi sendiri agar pasokan tetap terjaga dan harga lebih stabil.
Dia mengatakan kenaikan biaya angkutan juga berdampak terhadap harga barang karena meningkatnya biaya distribusi. Namun ketika pangan lokal diperkuat produksinya, tentu biaya distribusi akan lebih rendah dari pada mendatangkan komoditas dari luar provinsi, sehingga dampak positifnya harga bahan pangan pun juga akan lebih terjaga di Bengkulu.
"Nah, kalau angkutannya naik, pasti harganya akan naik. Itu yang harus kita antisipasi," kata dia lagi.
Menurut dia, upaya pengendalian inflasi perlu dilakukan sejak dini karena hingga Mei 2026 inflasi year-to-date Bengkulu sudah mencapai 1,39 persen sudah berada di atas angka nasional yang dicatat sebesar 1,35 persen.
Dia menambahkan pada akhir tahun masih terdapat sejumlah momentum yang berpotensi memicu kenaikan harga seperti Natal dan Tahun Baru 2027 sehingga langkah antisipasi perlu diperkuat sejak sekarang.
"Belum lagi cuaca yang tidak menentu, tak dapat diprediksi kadang hujan, tiba-tiba kemarau, ini tentu akan mempengaruhi inflasi juga. Karena itu perlu diantisipasi, salah satunya dengan penguatan produksi pangan (untuk memastikan ketersediaan dan kecukupan bahan pangan di tingkat masyarakat, tanpa perlu khawatir kondisi musim)," ujarnya.
Pewarta: Boyke Ledy WatraUploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026