Rejang Lebong, Bengkulu (ANTARA) - Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu mengintensifkan kolaborasi lintas sektor guna mengejar target swasembada pangan di wilayahnya melalui dukungan fasilitasi program pemerintah pusat.

Kepala Dinas TPHP Provinsi Bengkulu Rosmala Dewi di Rejang Lebong, Bengkulu, Rabu, mengatakan pihaknya bergantung fasilitasi dengan pemerintah pusat mengingat target produksi pertanian yang dibebankan ke daerah tersebut pada tahun ini cukup besar.

"Target luas tanam padi kita tahun ini seluas 104.604 hektare, dengan dengan target produksi mencapai 350 ribu ton gabah kering giling atau GKG. Ini tidak bisa kita capai tanpa dukungan pusat," kata Rosmala.

Dia menjelaskan sejumlah program strategis dari pemerintah pusat untuk mendongkrak produktivitas pangan telah digulirkan mulai dari perluasan areal tanam, cetak sawah rakyat (CSR), optimalisasi lahan (oplah), perbaikan jaringan irigasi tersier, hingga bantuan sarana dan prasarana produksi.

Bantuan dari pemerintah pusat ini, kata dia, untuk pemenuhan kebutuhan sarana produksi berupa benih dari pusat telah disalurkan secara bertahap ke Provinsi Bengkulu untuk tahap pertama.

"Bantuan benih yang sudah masuk ke Provinsi Bengkulu dari benih reguler saja ada untuk lahan 32.000 hektare, ditambah benih oplah itu 3.000 hektare, belum lagi yang lainnya. Ini baru tahap pertama, mungkin akan ada bantuan benih reguler tambahan, kemudian tambahan untuk CSR serta kegiatan lainnya," ujarnya.

Guna memastikan seluruh program berjalan linier dengan target nasional, Pemprov Bengkulu membangun sinergi yang kuat antara jajaran pemerintah pusat, provinsi, hingga tingkat kabupaten dan kota, salah satunya melalui pelaksanaan rapat koordinasi (rakor) guna memetakan kendala lapangan sekaligus merumuskan solusi bersama.

Menurut dia, berdasarkan data Dinas TPHP Provinsi Bengkulu, sentra produksi padi terbesar di Provinsi Bengkulu saat ini berada di Kabupaten Bengkulu Selatan, disusul Kabupaten Lebong dan Kabupaten Seluma.

Sementara itu, Kabupaten Rejang Lebong berada di peringkat kelima karena memiliki luas lahan baku sawah (LBS) yang relatif terbatas, yaitu sekitar 3.000 hektare lebih.

Namun, Rosmala menekankan Rejang Lebong memegang peranan penting sebagai sentra produksi beras lama yang memiliki keunggulan varietas lokal.

"Rejang Lebong masuk sentra produksi beras yang lama dan terkenal dengan beras lokal seperti beras talang benih dan beras rimbo recap. Ini harus kita jaga, paling tidak agar luas tanam di sana tidak menurun," terangnya.

Sebagai bentuk dukungan untuk memacu produktivitas di wilayah itu, pada tahun pemerintah pusat, tambah dia, mengalokasikan bantuan benih spesifik berdasarkan data calon petani calon lokasi (CPCL) di Kabupaten Rejang Lebong.

"Untuk bantuan benih tahun ini di Rejang Lebong berdasarkan CPCL, yaitu benih padi reguler dan oplah, dialokasikan total sebanyak 70 ton," sebut Rosmala Dewi.



Pewarta: Nur Muhamad
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026