Bengkulu (ANTARA) - Bagi masyarakat Bengkulu, lemang bukanlah makanan yang asing. Makanan berbahan dasar ketan ini punya cita rasa gurih dengan tekstur sedikit lembek dan lengket.
Lemang dibuat dengan mempertahankan metode pengolahan tradisional, setelah dicuci bersih, beras ketan dimasukkan ke buluh bambu yang di dalamnya telah dilapisi dengan daun pisang. Untuk memberikan rasa gurih, beras ketan dimasak dengan santan kelapa.
Buluh bambu berisi beras ketan dan santan kelapa itu kemudian dibakar dengan kayu perapian hingga matang. Proses memasaknya membutuhkan ketelitian dan kesabaran agar lemang matang sempurna di seluruh bagiannya.
Baca juga: BPK Bengkulu dorong pelestarian menhir megalitikum di Rejang Lebong
Oh iya, Sobat Antara dapat menjumpai kudapan ini dijual setiap harinya di beberapa pusat kuliner khas Bengkulu, salah satunya di Kawasan Sungai Rupat Kota Bengkulu.
Salah seorang penjual lemang di Kota Bengkulu yang akrab disapa Nenek Lim menyebutkan lemang bisa dinikmati langsung atau dengan cara disantap bersama makanan manis seperti tapai ketan hitam atau beberapa makanan manis lainnya.
Rasa gurih dari lemang dan manis dari tapai ketan hitam berkelindan memberikan sensasi gurih, manis secara bersamaan. Kita juga akan merasakan sedikit "gigitan" di lidah seperti sensasi minum soda, ini berasal dari air fermentasi tapai ketan hitamnya.
Baca juga: Pemkot Bengkulu salurkan ratusan ribu liter air ke tiga kelurahan
Sebenarnya, makanan tradisional seperti lemang juga ada di beberapa daerah lain di Indonesia, namun bagi masyarakat Bengkulu lemang bukan hanya sekadar kudapan biasa saja. Ada cerita dan tradisi yang melekat pada makanan ini yang patut Sobat Antara tahu.
Masyarakat Bengkulu seperti di Kabupaten Kaur misalnya, bagi mereka lemang menjadi makanan yang penting ada dalam kegiatan adat dan perayaan. Contohnya, lemang ternyata dipakai sebagai seserahan, simbol permintaan dan syarat dari calon mempelai perempuan kepada mempelai pria saat hendak menikah.
Pada prosesi adat perkawinan di sana, lemang bukan hanya sekadar sajian tapi memiliki simbol dan harapan untuk kedua mempelai, tekstur ketan yang lengket dimaknai agar kedua mempelai dapat hidup dalam rumah tangga yang harmonis saling melekat tak terpisahkan layaknya ketan pada lemang.
Lemang juga menyiratkan pesan tentang kesabaran dan ketekunan bagi pasangan yang hendak membangun kehidupan rumah tangga. Salah seorang warga Kabupaten Kaur, Julian menyebutkan makna kesabaran dan ketekunan dapat dilihat seberapa besarnya usaha serta kesabaran yang dicurahkan dalam memasak lemang.
Baca juga: Bukan sekadar benteng tua, ini 4 alasan kamu harus ke Benteng Marlborough
"Dari pembuatan lemang itu sendiri, butuh waktu, harus ditunggu, dan harus diputar-putar agar matang sempurna. Ini membutuhkan ketekunan yang memasaknya. Kami bisanya memakai lemang untuk simbol atau bagian seserahan hendak menikah," kata dia.
Di daerah lain di Bengkulu, lemang ternyata juga dijadikan sebagai salah satu makanan menyambut 20 hari pada bulan puasa Ramadhan. Selain itu lemang juga disuguhkan pada perayaan-perayaan hari besar lainnya.
Nah di tempat Sobat Antara, lemang punya cerita apa? Atau adakah makanan tradisional di sana yang punya cerita unik seperti lemang Bengkulu?
Pewarta: Agung Ridho WijayaUploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.