Bengkulu (ANTARA) - Indonesia begitu kaya dengan khazanah kuliner Nusantara, olahan makanan dengan cita rasa warisan budaya yang tetap dipertahankan turun-temurun dari waktu ke waktu. 

Di tengah tren kuliner baru yang terus bermunculan, panganan tradisional ini masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Salah satunya Kue Talam Piring khas Provinsi Bengkulu.

Kue ini terbuat dari tepung beras yang dipadukan dengan santan kelapa, gula merah, dan sari daun pandan. Panganan yang memiliki daya tahan sekitar satu hari satu malam itu dibuat dengan dengan cara dikukus hingga matang.

Baca juga: 4 Kue tradisional saat perayaan Natal dari berbagai negara

Adonannya meliliki dua lapisan, lapisan cokelat dihasilkan dengan perpaduan gula merah dan lapisan hijau lewat perpaduan sari daun pandan. Sebagian pengrajin juga membubuhkan sedikit vanili untuk memperkuat cita rasanya. 

Perpaduan tepung beras, santan, gula merah, dan sari daun pandan menghasilkan tekstur yang lembut dengan cita rasa manis dan gurih yang khas. Panganan khas Bengkulu ini dibuat dalam wadah piring seng jadul dengan dua lapisan adonan berwarna cokelat dan hijau yang disusun secara bergantian. 

Salah seorang pelaku usaha Kue Talam Piring di Kota Bengkulu, Peri Susanti (43), menyebutkan dirinya tetap memilih membuat dan menjual kuliner khas ini meskipun berbagai makanan kekinian semakin mudah ditemui dan jajanan viral terus bermunculan.

Baca juga: Kue basah Palembang jadi primadona saat Ramadhan

Peri mulai menjual Kue Talam pada 2011. Awalnya dia berjualan berkeliling dengan berjalan kaki dan menggunakan sepeda motor, yang kemudian selama tujuh tahun terakhir, dirinya sudah bisa membuka lapak sendiri di Kelurahan Bentiring Kota Bengkulu.

"Sejak tahun 2011 dan sudah 15 tahun berjualan kue talam, baru tujuh tahun buka lapak, sisanya berjualan jalan keliling lalu pakai kendaraan motor," kata dia.

Untuk bertahan di tengah perubahan zaman dan munculnya berbagai kuliner kekinian, Peri memilih menjaga kepercayaan pelanggan melalui rasa dan kualitas Kue Talam yang dibuatnya. Dia tidak ingin perubahan tren makanan membuat cita rasa panganan yang dijualnya ikut berubah atau tenggelam dalam perubahan zaman.



Pewarta: Frendika Akbar Pratama
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026