Kota Bengkulu (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bengkulu mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu dan tim pengendalian inflasi daerah (TPID) untuk meningkatkan kedisiplinan dalam pelaporan administratif serta penyelenggaraan rapat koordinasi. 

Hal tersebut dilakukan sebab capaian outcome atau dampak inflasi daerah di Kota Bengkulu dinilai sangat baik, hanya saja terdapat kelemahan dari sisi proses dan dokumentasi pelaporan dapat menggerus total nilai kinerja daerah.  

"Dilakukan tapi tidak dilaporkan, itu sayang, padahal bisa dapat 100 persen dari sisi prosesnya. Diperlukan inisiasi pelaksanaan High Level Meeting dan capacity building. High Level Meeting ini barang yang simpel sebetulnya, Wali Kota Bengkulu memimpin kemudian hadir beberapa kepala dinas, itu sudah bisa dikatakan sebagai High Level Meeting," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat di Kota Bengkulu, Selasa.

Sebab, dalam penilaian TPID nasional atau regional, aspek proses memiliki bobot 20 persen, output 30 persen dan outcome 50 persen, dengan banyaknya kegiatan nyata di lapangan seperti gerakan pangan murah dan operasi pasar yang sudah dilaksanakan secara masif namun tidak tercatat dengan maksimal di sistem pelaporan.

Untuk itu, BI merekomendasikan agar TPID Kota Bengkulu memperkuat pelaporan secara terperinci (detailing), meningkatkan frekuensi rapat koordinasi teknis.

Serta memastikan setiap arahan kebijakan memiliki laporan tindak lanjut yang matang agar dapat dinilai secara optimal oleh pemerintah pusat.

Wahyu menerangkan bahwa kinerja pengendalian inflasi di Kota Bengkulu memegang peranan paling penting dalam menentukan angka inflasi di tingkat Provinsi Bengkulu.

"Kota Bengkulu yang menentukan sebetulnya angka inflasi provinsi. Merahnya Bengkulu maka merah pula provinsi, putihnya Kota Bengkulu maka putih pula Provinsi Bengkulu. Jadi memang kinerja pengendalian inflasi Kota Bengkulu yang lebih menentukan," ujar dia.

Sementara itu, tekanan inflasi di Kota Bengkulu saat ini masih dipengaruhi oleh beberapa komoditas pangan utama seperti kenaikan harga daging ayam, cabai merah, dan gula pasir.

Dengan kondisi tersebut memberikan andil signifikan terhadap inflasi, sehingga diperlukan langkah intervensi pasar yang terarah dan berkala untuk menjaga daya beli masyarakat.



Pewarta: Anggi Mayasari
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026