Rejang Lebong, Bengkulu (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu meminta warga daerah itu untuk mewaspadai bahaya angin kencang yang terjadi di wilayah itu.
"Angin kencang ini terjadi seiring perubahan musim dari kemarau ke musim hujan. Warga diminta untuk mewaspadai bahaya angin kencang ini karena berpotensi terjadinya pohon tumbang atau papan reklame roboh, serta bisa merusak atap rumah," kata Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Rejang Lebong M Budianto saat dihubungi di Rejang Lebong, Selasa.
Baca juga: Pemkab Rejang Lebong biayai kepesertaan BPJS kesehatan 43.000 warga
Dia menjelaskan, angin kencang yang melanda Kabupaten Rejang Lebong ini mulai terjadi sejak Senin malam (28/9) yang disertai dengan hujan deras. Kemudian angin ini kembali berhembus keesokan harinya mulai dari pagi hingga malam.
"Alhamdulillah sejauh ini belum ada laporan dari warga yang terdampak akibat angin kencang tersebut, cuma ada tadi dahan kayu yang patah sehingga menimpa beberapa kendaraan di halaman parkir Pemkab Rejang Lebong," terangnya.
Untuk itu warga Rejang Lebong, kata dia, diminta agar tidak berada di bawah pohon besar atau papan reklame, karena bisa kapan saja roboh dan bisa mengancam keselamatan warga yang ada di bawahnya, termasuk pengendara kendaraan baik roda dua maupun empat.
Baca juga: Dinas PMD Rejang Lebong dorong peningkatan status dua desa tertinggal
Sementara memasuki musim hujan yang diperkirakan mulai terjadi pada Oktober nanti, pihaknya telah bersiaga guna mengantisipasi terjadinya bencana alam baik tanah longsor, banjir maupun angin puting beliung dan lainnya.
"BPBD Rejang Lebong telah menyiagakan personel yang tergabung di TRC dan Pusdalops, kemudian alat berat dan obat-obatan serta makanan siap saji," ujarnya.
Selain itu BPBD Rejang Lebong telah melakukan koordinasi dengan pihak TNI/Polri serta damkar setempat, sehingga jika terjadi kejadian bencana alam bisa langsung dilakukan penanganan bersama-sama.
Pewarta: Nur MuhamadUploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.