Bengkulu Utara (ANTARA) - Setelah semalaman terombang-ambing di tengah laut lepas Samudera Hindia, Kapal Pulo Tello akhirnya memasuki perairan terluar Indonesia dan tiba di Pelabuhan Kahyapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu, Senin (24/8) siang.

Bagi beberapa penumpang penumpang, tibanya kapal di daratan berarti berakhirnya perjalanan yang melelahkan. Namun, bagi enam truk pembawa bahan bakar minyak (BBM) yang ikut dalam pelayaran itu, perjalanan belum benar-benar selesai.

Puluhan kiloliter BBM yang dibawa kapal harus segera diangkut menuju stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Desa Malakoni, Kecamatan Enggano. Pasokan tersebut dibutuhkan masyarakat di salah satu pulau terluar Indonesia yang kebutuhan energinya masih bergantung pada jalur laut.

Pulau Enggano sendiri merupakan pulau kecil dibanding daratan utama Sumatera. Kawasannya teramat jauh "dikurung" Samudera Hindia yang terkenal dengan tinggi gelombang kuat. Tidak sembarang kapal dan awak kapal bisa melintasi salah satu lautan terluas dunia ini.

Penghujung Agustus 2026, ANTARA berkesempatan menumpang Kapal Feri Pulo Tello untuk melihat langsung distribusi BBM dari Kota Bengkulu menuju Pulau Enggano. Dalam pelayaran itu, PT Pertamina Patra Niaga membawa 48 kiloliter Pertalite, 16 kiloliter Biosolar, dan 8 kiloliter minyak tanah.

Mengarungi Samudera menjaga pasokan energi di Enggano. (Foto Antara Bengkulu/HO)

Total pasokan tersebut diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Enggano selama sekitar 30 hingga 40 hari.

Truk pengangkut BBM melintasi jalan rabat beton yang membelah pulau mengantarkan rombongan melewati lanskap pantai dengan air laut berwarna biru dan hamparan hutan bakau.

Kedatangan truk-truk tersebut telah ditunggu warga sejak pagi. Masyarakat dari berbagai desa di Kecamatan Enggano berdatangan ke SPBU untuk mendapatkan bahan bakar yang mereka perlukan.

SPBU di Enggano memang tidak menggunakan peralatan secanggih stasiun pengisian di kota-kota besar. Pengoperasiannya masih dilakukan secara manual dengan menuang BBM dengan jeriken, penakar dan corong. Namun, bagi warga, keberadaan SPBU yang manual tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Warga setempat hanya punya satu-satunya pilihan BBM kiriman tersebut karena memiliki harga yang sama dengan daerah lain di Indonesia. Namun, Pertamina tetap menerapkan kebijakan satu harga sehingga masyarakat di pulau tersebut membayar BBM sesuai harga yang berlaku nasional.

Sebagai gambaran, harga Pertalite di Enggano Rp10.000 per liter, solar Rp6.000 per liter, minyak tanah Rp6.000 per liter, gas elpiji bersubsidi berkisar Rp19.000 sampai Rp21.000.

Jika mau hitung-hitungan, sejatinya harga tersebut tergolong sangat terjangkau menilik biaya pengiriman BBM ke Enggano relatif besar. Alasannya, pasokan harus dibawa melalui jalur laut semalaman, melibatkan personel banyak, rantai pengiriman yang panjang dan kendala lainnya. 



Pewarta: Ferri Aryanto
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026