Warga Setia Menunggu
Masyarakat Enggano memahami bahwa letak geografis tempat tinggal mereka membuat distribusi kebutuhan sehari-hari tidak semudah di wilayah daratan.
Pulau Enggano berjarak sekitar 80-90 mil laut atau sekitar 160 hingga 170 kilometer dari Pelabuhan Pulau Baai, Kota Bengkulu. Pengiriman BBM tersebut membutuhkan waktu sekitar 12 hingga 18 jam perjalanan laut tergantung kondisi cuaca dan tinggi gelombang air laut.
Dalam beberapa kesempatan, apabila cuaca buruk dan gelombang air laut tidak ideal tidak ada pelayaran yang beroperasi sehingga pengiriman BBM ditunda sampai kondisi memungkinkan.
Jalur laut menjadi pilihan utama untuk membawa Pertalite, Biosolar, minyak tanah, dan gas elpiji ke Enggano. Sementara itu, bandar udara yang telah melayani penerbangan perintis dua kali dalam sepekan belum efisien untuk mengangkut barang dalam jumlah besar, terutama BBM.
Karena itu, jadwal pasokan ke Enggano sangat bergantung pada kelancaran pelayaran. Ketika keberangkatan kapal tertunda, kedatangan BBM pun ikut bergeser dan persediaan di SPBU dapat menipis.
Pertamina mengupayakan pengiriman BBM secara rutin setiap bulan. Bagi masyarakat, pola tersebut sudah menjadi bagian dari keseharian. Mereka memahami bahwa kebutuhan energi di pulau itu harus lebih dahulu menyeberangi laut sebelum sampai ke SPBU.
Ketergantungan terhadap transportasi laut juga dirasakan dalam aktivitas ekonomi lainnya. Para petani, misalnya, tidak mudah menjual hasil pertanian ke luar daerah karena harus mengandalkan transportasi laut.
Minyak Tanah Habis
Keterbatasan pasokan tidak hanya berpengaruh pada kendaraan. Kebutuhan energi juga terasa di dapur rumah tangga.
Di Pulau Enggano, kegiatan memasak tidak selalu bergantung pada gas elpiji atau minyak tanah. Ketika persediaan bahan bakar habis sementara pasokan baru belum tersedia di SPBU, warga kembali menggunakan kayu untuk menyiapkan makanan sehari-hari.
Siti, warga Desa Kaana, Kecamatan Enggano, membeli 10 liter minyak tanah di SPBU dengan harga Rp6.000 per liter untuk kebutuhan memasak di rumah. Jumlah tersebut belum tentu cukup untuk kebutuhan selama sebulan.
Ketika minyak tanah habis, Siti dan warga lainnya menggunakan kayu sebagai bahan bakar. “Kalau minyak tanah habis, ya kami pakai kayu untuk memasak,” kata dia.
Penggunaan kayu menjadi salah satu cara warga menyesuaikan diri dengan ketersediaan bahan bakar.
Pewarta: Ferri AryantoUploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.