Hemat Pakai BBM
Kondisi di Enggano menunjukkan bahwa persoalan BBM tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah pasokan, tetapi juga dengan waktu kedatangannya. Ketika pasokan berikutnya belum tiba, stok di SPBU harus dikelola agar tetap dapat melayani kebutuhan warga.
Untuk itu, pengelola SPBU menerapkan pembatasan pembelian pada waktu tertentu.
Petugas SPBU Enggano, Erwanto, mengatakan pasokan sekitar 48 hingga 50 kiloliter BBM sebenarnya hampir mencukupi kebutuhan masyarakat. Menurut dia, pengiriman sebulan sekali masih tergolong normal selama pasokan dapat dikelola sesuai tingkat konsumsi.
“Misalnya kita punya BBM sebanyak 48 kiloliter sebulan. Seharusnya dari jumlah itu, dua minggu habis 20 kiloliter sehingga masih ada sisanya untuk dua minggu berikutnya dan pelayanan tetap normal,” ujarnya.
Jika penggunaan lebih tinggi dari perkiraan, pengelola SPBU harus mengatur kembali pembelian. Apabila dari 48 kiloliter yang tersedia telah terpakai 30 kiloliter dalam dua minggu sehingga tersisa 18 kiloliter, misalnya, pembelian dibatasi agar persediaan dapat mencukupi kebutuhan hingga pengiriman berikutnya.
Warga Desa Kaana, Masrimanas, mengatakan masyarakat sudah terbiasa dengan kebijakan tersebut. Pada tahap pertama, pembelian dibatasi maksimal 10 liter per hari untuk sepeda motor dan 40 liter per hari untuk mobil.
Memasuki 10 hari berikutnya, pembelian kembali dikurangi. Sepeda motor dibatasi lima liter per hari, sedangkan mobil 20 liter per hari.
Meski pembelian dibatasi, warga mengakui kebutuhan operasional kendaraan bermotor masih dapat terpenuhi, termasuk kebutuhan Pertalite untuk perahu nelayan.
Bagi masyarakat Pulau Enggano, BBM bukan sekadar bahan bakar kendaraan. Energi dibutuhkan untuk menunjang berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari mobilitas warga hingga kebutuhan rumah tangga.
Karena itu, warga menyesuaikan penggunaan dengan persediaan yang ada. Mereka menghemat BBM, mengikuti pembatasan pembelian di SPBU, dan menggunakan kayu ketika minyak tanah tidak tersedia.
Pada akhirnya, perjalanan membawa BBM ke Enggano bukan sekadar memindahkan bahan bakar dari daratan Bengkulu menuju sebuah pulau di tengah Samudera Hindia. Kapal harus menempuh perjalanan berjam-jam, membawa pasokan yang kemudian dikelola agar dapat memenuhi kebutuhan warga hingga pengiriman berikutnya.
Di pulau terluar itu, menjaga ketersediaan energi berarti memastikan aktivitas masyarakat tetap berjalan. BBM yang menyeberangi laut akhirnya bukan hanya menjadi bahan bakar kendaraan, tetapi juga bagian dari kehidupan warga yang bergantung pada pasokan dari daratan.
Pewarta: Ferri AryantoUploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.