148 titik panas karhutla di Kalbar terpantau

148 titik panas karhutla di Kalbar terpantau

Deteksi Hotspot (titik api) menggunakan sensor Modis pada satelit Terra dan Aqua memberikan gambaran lokasi wilayah Indonesia bagian barat yang mengalami kebakaran hutan. ANTARA/Dok. BMKG/am.

Pontianak (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supadio Pontianak menyatakan pada Rabu masih terpantau 148 titik panas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat.

Kepala BMKG Supadio Pontianak Erika Mardiyanti di Sungai Raya, Rabu, mengatakan titik panas terbanyak di Kabupaten Ketapang (56 titik panas), disusul Kubu Raya (37), Sanggau (19), Kapuas Hulu (12), Landak (9), Bengkayang, Mempawah, dan Kayong Utara masing-masing empat titik panas, Sintang dan Melawi masing-masing satu titik panas, sedangkan Kabupaten Sekadau, Kota Pontianak, dan Singkawang tidak ada titik panas.

Ia menambahkan dalam seminggu ke depan sejumlah wilayah di Kalbar berpotensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang.

Oleh karena itu, katanya, masyarakat perlu mewaspadai terjadinya hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat, terutama pada siang hingga sore hari.

"Saat ini hujan baru turun di sebagian kabupaten/kota di Kalbar, seperti Kapuas Hulu, Bengkayang, Landak, Sambas, Pontianak, dan Kubu Raya. Diprakirakan hujan ke depan akan meluas ke wilayah Kalbar lainnya hingga satu minggu ke depan dengan intensitas ringan, sedang, hingga lebat ," katanya.

Berdasarkan laporan warga, telah terjadi puting beliung di wilayah Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Selasa (13/8), sekitar pukul 15.29 WIB.

Berdasarkan data kecepatan angin maksimum di Stasiun Meteorologi Supadio, Stasiun Meteorologi Maritim Pontianak dan Stasiun Klimatologi Mempawah, tidak menunjukkan adanya angin kencang.

Analisis menggunakan radar cuaca dengan produk PPI Radial Velocity pada elevasi terendah diperoleh kecepatan angin hingga 45 knot (sekitar 81 km/jam) di sekitar lokasi kejadian pada pukul 15.29 WIB.

Ia menyebut kejadian itu bersifat lokal, hanya di wilayah dengan radius yang tidak luas, akibat adanya aktivitas awan Cumulonimbus. Pembentukan awan Cumulonimbus diakibatkan konvektif yang kuat atau tinggi di sekitar Kota Pontianak.

Pada kesempatan sebelumnya, Kepala Polsek Sui Ambawang AKP Joko Sutriyatno mengatakan 60 rumah dan 11 ruko di Perumahan Arafah Residence Jalan Ampera Raya, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya rusak berat akibat puting beliung pada Selasa (13/8).

Dia menjelaskan angin kencang tersebut datang bersamaan dengan hujan sekitar pukul 15.30 WIB dan memorak-porandakan kawasan perumahan tersebut dan sekitarnya.

Baca juga: BNPB kerahkan helikopter antisipasi kebakaran hutan Kalbar
Baca juga: Titik panas di Kalbar meningkat

 
Pewarta : Andilala
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019