Pertamina bangun Rumah Aman Untuk Perempuan dan Anak di Sumut

Pertamina bangun Rumah Aman Untuk Perempuan dan Anak di  Sumut

Tim Pertamina MOR I dan Wali Kota Tebingtinggi berfoto bersama di Rumah Aman Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak di Tebingtinggi, Sumut. (Antara Sumut/Istimewa)

Medan (ANTARA) - Manajemen PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I membangun Rumah Aman Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di Tebingtinggi, Sumut dalam rangka ikut berperan menekan angka kekerasan dalam rumah tangga.

Unit Manager Communication, Relation & CSR MOR I, M. Roby Hervindo, di Medan, Senin, mengatakan bantuan Pertamina itu dari dana tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan.

Selain peresmian rumah aman, Pertamina juga menurunkan delapan relawan pekerja muda untuk memberikan kelas inspirasi dan motivasi kepada anak-anak korban KDRT di Rumah Aman itu.

"Rumah Aman Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak dan kelas inspirasi dan motivasi untuk anak-anak korban kekerasan itu diharapkan membantu menekan jumlah dan dampak negatif KDRT, " ujarnya.

Data dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), katanya, jumlah korban KDRT setiap tahun terus meningkat.

Pada 2018, jumlah korban KDRT mencapai 406.178 kasus atau naik 16,5 persen dibandingkaan dengan pada 2017 yang sejumlah 392.610 kasus.

Psikolog Rahmadani Hidayatin menyebutkan untuk menekan KDRT ada beberapa hal yang harus dilakukan, yakni mengenali KDRT di mana tidak selalu berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga secara psikologis, seksual, dan/atau penelantaran rumah tangga.

Ia menyebut KDRT umumnya menimbulkan trauma sehingga mengganggu secara psikis.

Perhatian lainnya, katanya, terkait dengan pola asuh anak yang juga berpotensi kekerasan.

Orang tua kerap berupaya terlalu keras untuk membentuk anak sesuai keinginan sendiri. Mereka juga seriing menunjukkan kekuatan agar anak merasa takut.

Ia mengemukakan perlunya membangun resiliensi keluarga, yakni kemampuan keluarga untuk menghadapi kesulitan anak ketangguhan menghadapi stres dan bangkit dari trauma.

"Untuk membangun resiliensi keluarga agar 'tahan banting', diperlukan proses belajar. Berlatih menghadapi kegagalan dan keberhasilan dalam menghadapi situasi-situasi sulit," ujar Rahmadani.

Keluarga mesti membangun kecerdasan sosial yakni kemampuan beradaptasi dengan situasi sosial yang berbeda-beda.

Keberanian mengungkapkan kebenaran dan kekuatan menghadapi ancaman maupun rasa sakit perlu ditanamkan ke. anak-anak.

Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan menyebutkan kesadaran orang tua dalam mendidik anak sebagai hal penting.

Sekarang ini, katanya, ada kecenderungan menyerahkan pendidikan anak pada sekolah dan pemerintah.

Hal itu, katanya, perlu diluruskan karena orang tualah yang paling berperan dalam pendidikan anak.

Pemkot Tebingtnggi mendukung pendidikan keluarga dengan kegiatan kerohanian, seperti pengajian dan sosialisasi berkelanjutan.

Baca juga: Pertamina MOR VIII salurkan bantuan langsung ke lokasi pengungsian
Baca juga: Pertamina salurkan program kemitraan Rp3,4 miliar

 

Pewarta : Evalisa Siregar
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019