Menkumham RI tanggapi larinya 258 WBP dari Lapas Sorong

Menkumham RI tanggapi larinya 258 WBP dari Lapas Sorong

Menkumham RI, Yasonna Laoly dalam suatu kesempatan di Kota Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. (M Fikri Setiawan)

Badung (ANTARA) - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM), memberikan tanggapannya terkait dengan 258 Warga Binaan Pemasyarakatan, di Lapas Klas II Sorong yang melarikan diri, bahwa kini pihaknya sedang melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Kapolda, Kapolri dan panglima TNI untuk kerja sama.

"Untuk 258 orang yang melarikan diri, kami sudah koordinasi dengan pihak Kapolda, Kapolri dan Panglima TNI untuk kerja sama dengan Pangdam untuk menanggapi masalah ini," kata Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM), Yasonna Laoly seusai memberikan materi dalam kegiatan Muktamar PKB, di Nusa Dua, Rabu.

Baca juga: Pangdam janji usut oknum aparat diduga rasis kepada mahasiswa Papua

Baca juga: Pengamat: Kerusuhan di Papua bukan akibat rasisme


Yasonna juga mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi awalnya berasal dari luar Lapas dan sedang ada unjuk rasa. Dari arah luar Lapas melempari batu dan lainnya dengan mengarah ke dalam Lapas.

Dengan adanya kejadian itu, pihak Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lapas Sorong beraksi dengan membakar lapas dari dalam.

"Jadi dari luar peristiwa itu ada unjuk rasa dan dari luar yang melempari dm batu dan lain-lain ke lapas. Dan akhirnya orang lapas juga bereaksi dengan mendobrak dan membakar lapas dari dalam,"jelasnya.

Yasonna menambahkan dari aksi WPB di dalam lapas menyebabkan perkantoran Lapas Sorong habis terbakar dan sebanyak 258 WBP melarikan diri.

"Karena ada aksi di dalam lapas menyebabkan perkantoran habis terbakar dan ada 258 orang yang melarikan diri," katanya.

Menurutnya, Kepala kantor Wilayah Sorong juga kesulitan masuk ke dalam dikarenakan jalan tertutup. Selain itu, yang juga menjadi perhatian bahwa bahan makanan untuk Narapidana juga mengalami kesulitan.

Akses jalan menuju Lapas juga tertutup, toko - toko yang berada di sekitar area juga tertutup, namun Yasonna mengatakan bahwa Kakanwil telah mengajukan laporan dan saat ini sedang berusaha untuk ditangani.

"Kemarin Kakanwil sulit masuk ke dalam karena jalan tertutup dan yang kita perhatikan juga adalah bahan makanan untuk narapidana sulit untuk masuk ke dalam karenan jalan tertutup, toko tertutup, tapi Kakanwil sudah lapor ke saya soal ini," ujarnya.

Selain bahan makanan yang saat ini menjadi perhatian Menkumham, kondisi air mati dan aliran listrik padam juga sedang mendapat penanganan yang serius.

"Air dan lampu mati jadi sekarang sedang ditangani betul - betul apalagi soal makanan, makanan ini cukup serius. Jadi kita kerja sama dengan Polri agar bisa dibantu, bisa masuk ke lapas kalau tidak ini sangat berbahaya sekali," jelas Yasonna.

Sedangkan untuk kondisi lapas terkini, sudah tentu khusus bahan makanan, air dan listrik masih perlu bantuan segera. Ia menambahkan selanjutnya Kakanwil akan terus melakukan pelaporan ke pihaknya terkait perkembangan kondisi di Lapas.

Untuk jumlah tahanan yang telah ditangkap, Yasonna belum dapat menjelaskan terkait hal tersebut dan saat ini pihaknya sedang melakukan koordinasi.

Baca juga: KontraS minta pengungkapan insiden Asrama Mahasisa Papua secara adil

Baca juga: Stafsus Presiden minta mahasiswa Papua tidak takut belajar di Jatim
Pewarta : Ayu Khania Pranishita
Editor: Nurul Hayat
COPYRIGHT © ANTARA 2019