"Sustainable living", tren ramah lingkungan yang diminati di 2019

Ilustrasi "sustainable living". (Shutterstock)

Jakarta (ANTARA) - Di tengah perubahan iklim yang kian sering digaungkan, masyarakat mulai berinisiatif untuk melakukan hal-hal kecil demi menjaga bumi agar lebih hijau.

Seruan menjaga bumi itu dibarengi dengan sebuah gerakan bertajuk sustainable living atau gerakan dengan menggunakan produk daur ulang, hingga tidak meninggalkan sampah dan limbah.

Berikut adalah ringkasan singkat dari tren sustainably living yang menarik perhatian dan kesadaran masyarakat akan bumi di tahun ini.

Sustainability at home

Perubahan kecil dapat dimulai dari rumah. Tahun ini, rupanya banyak penghuni rumah yang mulai menggunakan barang-barang ramah lingkungan sebagai furniturnya.

Untuk lampu, misalnya, dengan menggunakan warna yang lebih ringan dapat menghemat energi, dan warna dinding dan tirai yang terang juga dapat meminimalkan kebutuhan akan lampu.

Saat membeli furnitur untuk rumah, memilih bahan yang dapat didaur ulang dan bebas dari plastik serta poliester adalah kuncinya. Penggunaan wol, kapas dan goni untuk bantal, selimut, pelapis, dan karpet juga merupakan hal cerdas untuk dilakukan.

Sustainable food

Ilustrasi makanan organik. (Shutterstock)

Tahun ini, banyak orang telah beralih ke cara hidup organik, karena makanan organik bebas dari komponen berbahaya. Pestisida dan bahan kimia seperti pupuk dan herbisida, fungisida, dan insektisida banyak digunakan dalam pertanian konvensional.

Beralih ke makanan organik memastikan Anda mendapatkan makanan yang lebih bergizi yang rasanya lebih enak, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Sayuran organik, buah-buahan, dan produk susu tidak mengandung pestisida dan bahan kimia berbahaya lainnya. Karena itu, mereka tidak mencemari tanah tempat mereka tumbuh. Pertanian organik pun meningkatkan kesuburan tanah, menghemat air, dan mengurangi polusi.

Hadiah "go green"

Ilustrasi hadiah "green". (Shutterstock)

Sudah mulai ada beberapa orang yang memulai tren baru dengan memberi dan menerima tanaman hijau sebagai pemurni udara (air purifier) untuk memerangi penyakit polusi.

Di dalam ruangan, tanaman ini dikenal membantu Anda tidur dengan membersihkan udara di sekitar Anda. Bunga teratai, lidah buaya hingga tanaman bambu adalah beberapa di antaranya.

Bepergian cerdas

Ilustrasi "smart travelling". (Shutterstock)

Ketika memutuskan untuk travelling atau liburan, mulailah dengan membawa tas belanja sehingga bisa menghemat plastik sekali pakai. Selain itu, alih-alih membeli sebotol air setiap hari, isi ulang botol Anda sendiri.

Jelajahi tempat baru dengan menggunakan sistem transportasi umum. Menginaplah di properti ramah lingkungan, dan coba gunakan linen yang disediakan hotel untuk waktu yang lama, kecuali jika Anda benar-benar membutuhkan handuk segar.

Pernikahan ramah lingkungan

Ilustrasi "green wedding". (Shutterstock)

Tahun ini, diskusi seputar "happy ever afters" atau bahagia hingga akhir hayat semakin mendorong banyak pasangan secara sadar memilih untuk ikut go-green pada hari pernikahan mereka.

Menghilangkan semua jenis limbah dekoratif, banyak pasangan memilih pendekatan yang lebih sustainable. Misalnya dengan undangan digital, membatasi atau menghilangkan penggunaan peralatan makan plastik dan barang pecah belah, memilih alternatif yang dapat didaur ulang seperti yang terbuat dari baja, bambu, daun, dan bahan yang dapat digunakan kembali.

Selain itu, banyak yang bahkan memilih untuk memiliki dekorasi daur ulang, daripada membiarkan vendor membuang dekorasi yang tersisa. Selain ramah lingkungan, tren ini juga lebih murah.

Baca juga: Perawatan dan kreasi pakaian jadi awal fesyen berkelanjutan

Baca juga: Keringat "go green" nan menyehatkan

Baca juga: Cari baju baru untuk lebaran? Cobalah tukar baju

 

Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2019