Menristek dorong pengembangan drone untuk kedaulatan pertahanan

Menristek dorong pengembangan drone untuk kedaulatan pertahanan

Dosen Prodi Pertanian UMM, Dr Wahono saat menunjukkan drone yang diciptakannya kepada Menko PMK Prof Muhadjir Effendi. ANTARA/HO-UMM

Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mendorong Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk memperkuat teknologi terbaru pesawat tanpa awak atau drone untuk upaya menjaga kedaulatan dan penguatan pertahanan.

"Kita harapkan LAPAN bisa memperkuat teknologi untuk pembuatan drone tersebut tidak hanya sekedar pada fisik drone tersebut apakah mengenai berapa jauh bisa terbang, kemampuan manuver, berapa alat-alat yang bisa dibawa, tetapi bagaimana mengawinkan teknologi drone tersebut dengan teknologi komunikasi dan digital yang terbaru," kata Menristek Bambang dalam sambutan saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Citra Satelit Penginderaan Jauh 2020, Jakarta, Selasa.

Menristek Bambang mengatakan akan lebih bagus jika pengawasan dan upaya-upaya untuk menjaga kedaulatan wilayah Indonesia dilakukan dengan menggunakan drone dengan skala jelajah luas dan drone untuk kombatan sebagai bagian dari sistem pertahanan dan keamanan.

"Saatnya tiba sekarang kita memanfaatkan drone itu lebih ekstensif," ujarnya.

Baca juga: Dosen UMM ciptakan tiga drone untuk pertanian modern
Baca juga: SkyDrive luncurkan penerbangan uji drone kargo pertama yang akan tingkatkan produktivitas di tempat-tempat yang sulit dijangkau


Bambang mengatakan pada rapat terbatas sebelumnya mengenai alat utama sistem persenjataan (alutsista), ada penekanan untuk pemanfaatan pesawat nirawak akan lebih diprioritaskan untuk keperluan yang lebih praktis untuk mengawasi wilayah Indonesia.

Pesawat tanpa awak akan dapat membantu pemantauan luas wilayah Indonesia baik daratan maupun lautan, termasuk di Laut Natuna.

Sebelumnya, Indonesia dan China sempat terlibat silang pendapat setelah 50 perahu nelayan China beserta kapal penjaganya (coast guard) memasuki Laut Natuna yang dianggap sebagai wilayah perairan tradisionalnya (Nine Dash Line) pada Desember 2019.

Dalam melihat perkembangan zaman saat ini, Menristek Bambang menuturkan pesawat tanpa awak atau unmanned aerial vehicle berpotensi menjadi tren masa depan.

Baca juga: Panglima: Drone CH4 jadi pembeda peringatan HUT Ke-74 TNI
Baca juga: Panglima yakinkan penggunaan drone bermanfaat pantau titik api


Menristek Bambang menuturkan sekarang negara-negara maju dan negara-negara yang mempunyai konsentrasi khusus soal pertahanan dan keamanan banyak menggunakan drone.

"Drone itu punya satu keuntungan yang luar biasa yaitu tidak melibatkan orang secara langsung jadi kalau terbang kemudian tertangkap atau bisa dideteksi pihak lawan maka hanya saja yang dihancurkan tidak ada korban nyawa yang terjadi," ujar Bambang.

Selain untuk pemantauan, ada juga drone yang dimanfaatkan untuk pengintaian dan penyerangan tergantung dari spesifikasi drone yang diciptakan. Bahkan telah muncul peristiwa penyerangan yang memanfaatkan drone antara lain penyerangan terhadap dua instalasi minyak Aramco, Arab Saudi, dan serangan drone dari Amerika Serikat yang menewaskan Qasem Soleimani, yang merupakan Jenderal Militer di Irak.

Menristek Bambang mengatakan pengembangan pesawat tanpa awak oleh bangsa Indonesia ke depan bukan menyangkut masalah perang dan tidak untuk memicu ketegangan wilayah tapi lebih kepada upaya memantau wilayah kedaulatan negara.

"Kalau drone kita bisa langsung targetkan daerah mana yang kita lihat apa yang kita mau perhatikan," ujarnya.

Baca juga: Kemhan-PT Pertamina kerja sama pengunaan antidrone
Baca juga: Drone untuk pengangkut manusia diluncurkan LAPAN
Baca juga: Drone CH4 ditampilkan dalam latgab TNI "Dharma Yudha 2019"

 
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020