Direktur WCS sebut teknologi harapan lawan perdagangan satwa liar

Direktur WCS sebut teknologi harapan lawan perdagangan satwa liar

Country Director WCS Noviar Andayani (kedua kiri), Wakil Dubes AS Heather Variava (kedua kanan) dan juara dua kompetisi Global Zoohackathon 2019 Lintang Sutawika (ujung kanan) dalam acara di Jakarta, Selasa (18/2/2020) (ANTARA/Prisca Triferna)

Jakarta (ANTARA) - Teknologi merupakan salah satu harapan untuk melawan perdagangan satwa liar secara ilegal dan membantu pemerintah untuk mengembangkan kebijakan yang dapat mendorong hal tersebut, kata Country Director Wildlife Conservation Society (WCS) Noviar Andayani.

"Kecerdasan dan kepiawaian generasi milenial dalam teknologi merupakan modal luar biasa untuk membangun Indonesia maju tanpa kehilangan keanekaragaman hayati, satwa dan tumbuhan liar yang menjadi bagian dari Indonesia," kata Andayani ketika membuka presentasi aplikasi yang dapat membantu perdagangan satwa di @america di Jakarta pada Selasa.

Upaya bangsa Indonesia untuk memerangi kejahatan perdagangan satwa liar saat ini berkejaran dengan kecanggihan modus perdagangan satwa liar secara daring," kata Andayani. 

Baca juga: Di kompetisi Global Zoohackathon 2019, tim Indonesia jadi "runner up"

Dalam kesempatan itu, hadir sekelompok anak muda Indonesia yang bergabung dengan Tim Navy Pangolin berhasil keluar sebagai juara kedua Global Zoohackathon 2019, kompetisi teknologi yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat untuk membantu mencari solusi teknologi melawan perdagangan satwa liar ilegal.

Tim dari Indonesia memanfaatkan teknologi artificial inteligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk membuat aplikasi bernama Pang The Pangolin yang dapat membantu analis mengumpulkan data terkait perdagangan satwa, yang selama ini memakan waktu lama karena dilakukan secara manual.

Menurut Lintang Sutawika, salah satu dari anggota Navy Pangolin, nama tim mereka sendiri diambil dari hewan yang terancam punah akibat perdagangan ilegal secara masif yaitu pangolin atau yang dikenal di Indonesia sebagai trenggiling.

Harapannya dengan adanya aplikasi tersebut segala pemangku kepentingan dapat semakin efektif dalam usaha dan membuat kebijakan untuk menghilangkan perdagangan satwa yang dilindungi.

"Apakah aplikasi ini bisa menyelesaikan permasalahan (perdagangan satwa liar) atau tidak, kita harus kembali ke bahwa permasalahan ini dimulai oleh manusia dan hanya bisa diselesaikan oleh manusia. Aplikasi ini berfungsi untuk mempercepat proses menghentikan aktivitas ilegal tersebut," kata Lintang, yang hadir dalam acara yang diadakan di pusat kebudayaan AS itu.

Trenggiling adalah salah satu hewan dilindungi yang terus menjadi sasaran perdagangan satwa ilegal, dengan negara tujuan utamanya adalah China. Mamalia tersebut diburu karena sisiknya dipercaya dapat digunakan sebagai bahan obat, meski belum ada fakta ilmiah yang mendukung kepercayaan tersebut.

Baca juga: Koalisi LSM kampanye kurangi perdagangan penyu "Keren Tanpa Sisik"
Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020