Bantuan Keberlangsungan hidup untuk pedagang dan pengemudi ojol

Bantuan Keberlangsungan hidup untuk pedagang dan pengemudi ojol

Seorang pedagang Ikan Cupang keliling menerima paket Bantuan Keberlangsungan Hidup dari Sekolah Relawan, Depok, Jawa Barat, Selasa (24/3/2020). ANTARA/HO Sekolah Relawan/am.

Jakarta (ANTARA) - Sekolah Relawan memberikan bantuan keberlangsungan hidup kepada pedagang kecil dan pengemudi ojek 'online' (Ojol) dan sopir angkot yang terdampak kebijakan 'social distancing' atau 'physical distancing' (pembatasan fisik) untuk menekan penyebaran wabah Virus Corona COVID-19.

"Mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan penghasilan harian, sejak adanya 'social distancing' pendapatan mereka jauh berkurang," kata Agil Mulqi Syahrial selaku Kemitraan dan Hubungan Kemasyarakatan Sekolah Relawan, saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Bantuan ini diberikan berawal dari kisah seorang pengendara ojek 'online' dari wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara yang menerima orderan kiriman paket dengan tujuan Kota Depok, Jawa Barat.

Pengendara ojek online itu bernama Buyung berusia 65 tahun, mengaku terpaksa mengambil orderan kiriman paket tersebut demi bisa mendapatkan penghasilan di tengah 'social distancing'.

"Minggu (22/3) kemarin saya menerima paket dari seorang 'driver' ojek online dari Tanjung Priok mengantarkan paket ke Depok biaya paketnya hanya Rp50 ribu," kata Agil.

Saat itu, lanjut Agil, Pak Buyung minta maaf karena tidak bisa cepat mengantar paket ketujuan karena sepanjang perjalanan turun hujan, hingga terpaksa berhenti beberapa kali.

Pak Buyung mengatakan orderan penumpang sudah sepi karena pekerja dan anak sekolah sudah dirumahkan sejak adanya wabah COVID-19, sehingga pengendara ojol mengharapkan pendapatan dari pengiriman paket barang maupun makanan.

"Pak Buyung sempat bilang ke saya 'dari pada tidak makan, saya ambil orderan GoSend dari Tanjung Priok ke Depok," kata Agil mengulangi ucapan Pak Buyung.

Selain Pak Buyung, dampak wabah COVID-19 juga dialami sopir angkot di sejumlah stasiun yang lebih banyak nongkrong menunggu penumpang yang sepi sejak pembatasan aktivitas dilakukan.

Baca juga: Dinkes DKI Jakarta jelaskan warga yang diprioritaskan rapid test

Baca juga: 11 pasien COVID-19 RSUP Persahabatan sembuh, 42 dirawat

Baca juga: Pemkot Jakpus beri bantuan makanan bagi keluarga COVID-19


Menurut Agil, sejak ada pembatasan sosial, mereka yang bekerja harian tersebut kesulitan untuk mencukupi kebutuhan

Agil mengatakan dari pengalaman tersebut Sekolah Relawan membeli sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng gula dan lainnya untuk dijadikan paket bantuan keberlangsungan hidup untuk para pekerja harian tersebut.

"Total ada 50 paket yang kita siapkan, satu paket senilai Rp300 ribu itu kita bagi-bagikan kepada pedagang keliling, ojol dan sopir angkot di wilayah Jabodetabek," katanya.

Untuk wilayah Jakarta, Sekolah Relawan memberikan bantuan paket sembako untuk keberlangsungan hidup tersebut kepada salah satu pedagang di Pasar Kramatjati, Jakarta Timur.

Sekolah Relawan gerak cepat menyalurkan bantuan dengan harapan dapat meminimalisir dampak yang dirasakan oleh masyarakat berpenghasilan rendah tersebut.

"Mereka tidak menerima gaji bulanan, hanya berpenghasilan harian, bagaimana mereka bisa membeli stok makanan untuk sebulan seperti mereka yang 'panic buying', bahkan untuk sehari saja mereka sulit mendapatkan penghasilan," kata Agil.

Agil berharap banyak pihak yang menyadari kondisi tersebut termasuk pemerintah setempat, sehingga masyarakat yang ekonominya rendah mendapatkan bantuan selama 'social distancing' diberlakukan.

Sebelumnya, Sekolah Relawan juga telah memberikan bantuan paket makanan dan buah-buahan serta alat pelindung diri (APD) ke sejumlah paramedis di rumah sakit yang melayani pasien COVID-19 di Jakarta.
 
Pewarta : Laily Rahmawaty
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2020