Manggala Agni Muara Teweh buat desinfektan herbal dari bambu

Manggala Agni Muara Teweh buat desinfektan herbal dari bambu

Proses pengolahan cairan cuka kayu untuk desinfektan herbal berbahan baku pohon bambu di Kantor Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh, Minggu (5/4/2020) ANTARA/HO-Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh

Muara Teweh (ANTARA) - Kantor Daerah Operasi (Daops) Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah membuat bahan desinfektan herbal yang berasal dari pohon bambu untuk mengganti bahan dari cairan kimia guna mengantisipasi penyebaran virus corona atau COVID-19.

"Desinfektan ramah lingkungan yang diberi nama cairan cuka kayu ini aman bagi manusia dan lainnya, apalagi bahan bakunya banyak tumbuh di daerah ini," kata Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh Andreas Ero, Selasa.

Baca juga: Polres Singkawang buat bilik disinfektan antisipasi COVID-19

Menurut dia, dalam pengolahan desinfektan herbal ini pihaknya bekerja sama dengan Kantor Daops Manggala Agni Kalimantan II Kapuas selaku pembimbing praktek pembuatan desinfektan cairan cuka kayu berbahan baku bambu.

Proses pembuatan cuka kayu ini, kata dia, tergolong mudah karena bahannya banyak tumbuh di sekitar Kantor Daops Manggala Agni Muara Teweh.
Proses pengolahan cairan cuka kayu untuk desinfektan herbal berbahan baku pohon bambu di Kantor Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh, Minggu (5/4/2020).ANTARA/HO-Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh


"Diharapkan nantinya hasil pembuatan cuka kayu ini dapat dipergunakan untuk upaya pencegahan dengan melakukan penyemprotan desinfektan pada sarana prasarana gedung, kantor fasilitas publik dan tempat masyarakat lainnya, serta dengan menerapkan budaya hidup bersih, dan menjaga lingkungan sekitar," kata Andreas.

Baca juga: Bahan penyemprotan disinfektan aman untuk manusia

Sementara Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan II Kapuas Aswaludin menjelaskan pembuatan desinfektan berbahan herbal ini berdasarkan dari Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berhasil memproduksi desinfektan dari cuka kayu dan bambu (asap cair) sebagai antisipasi penyebaran COVID-19.

Baca juga: DPP PDIP apresiasi Risma buat inovasi "Bilik Disinfektan Trisakti"

Berdasarkan hal tersebut, Kementerian LHK melalui Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Kalimantan melakukan pengolahan desinfektan herbal ini awalnya di Daops Kapuas.

"Setelah berhasil, kami melakukan pelatihan kepada petugas Manggala Agni Muara Teweh ini untuk membuat cairan cuka kayu ini," kata dia.

Dia mengatakan, dari hasil Penelitian dan Pengembangan Pusat Litbang Hasil Hutan (P3HH) ini juga diproduksi hand sanitizer dengan formula asap cair (cuka kayu)

Hasil pengujian asap cair kayu dan bambu terhadap kuman dari eksperimen yang dilakukan, cukup hanya dengan 1 persen cuka kayu sudah efektif dilakukan Prof Gustan Pari peneliti P3HH BLI, beberapa waktu lalu.

Pengujian dilakukan Prof Gustan dilakukan bersama Ratih Damayanti dan tim yakni dengan menguji toksisitas asap cair kayu dan bambu sebagai desinfektan, Riset ini menggunakan mikroorganisme bakteri yang terdapat pada telapak tangan dan udara di Laboratorium Mikrobiologi Hutan-Pusat Litbang Hutan, Bogor.
Seorang petugas mencium cairan cuka kayu dalam botol air mineral yang siapkan dicampurkan dengan air untuk desinfektan herbal di Kantor Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh, Minggu (5/4/2020).ANTARA/Kasriadi


Hasilnya, asap cair kayu dan bambu dengan konsentrasi 1 persen memiliki kemampuan lebih baik dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme dibandingkan etanol (alkohol) 70 persen, yang selama ini sering dijadikan bahan dasar desinfektan.

"Kita harapkan melalui desinfektan herbal ini selain membasmi virus bakteri di sekeliling kita maupun penyakit dari tanaman," ujarnya.

Proses pengolahan cairan cuka kayu itu menggunakan tungku yang atasnya diletakan drum sebagai tempat mengolah bambu yang dipotong kecil-kecil yang dibakar selama delapan jam, kemudian proses pembakaran yang apinya selalu dijaga agar tetap menyala ini mengeluarkan asap yang keluar dari potongan bambu ukuran sekitar empat meter lebih.

Setelah proses pembakaran berjalan pada menit ke-47 pertama sudah menghasilkan cairan cuka kayu yang keluar dari selang plastik kecil sekitar 1,5 liter kemudian ditampung ke dalam botol misalnya botol air mineral.

Awalnya cairan itu berwarna kuning kecoklatan dan proses terus berjalan hingga cairan terlihat semakin gelap dan pekat.Namun semua cairan itu tetap bermanfaat.

"Proses pengolahan selama delapan jam itu dapat menghasilkan cairan cuka kayu sebanyak 12 liter. Untuk bahan desinfektan dengan ukuran air sebanyak 10 liter cukup dicampur cairan cuka kayu sekitar 100 mililiter. Jadi kalau kita menggunakan alat penyemprot hama jenis Solo yang berkafasitas 15 liter cukup dicampur dengan cairan cuka air 150 ml," jelas Aswaludin.
Pewarta : Kasriadi
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2020