Aliansi Zero Waste: swasta lebih inovatif gunakan kemasan daur ulang

Aliansi Zero Waste: swasta lebih inovatif gunakan kemasan daur ulang

Pelet plastik hasil daur ulang sampah kemasan sachet di pabrik percontohan CreaSolv di Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (26/10/2018). Teknologi itu dikembangkan Unilever dan Fraunhover IVV di Jerman. ANTARA/Nanien Yuniar/am.

Jakarta (ANTARA) - Aliansi Zero Waste Indonesia mendorong perusahaan swasta lebih inovatif menggunakan kemasan atau bahan daur ulang untuk produk-produknya sehingga meninggalkan kemasan plastik yang menjadi sumber pencemaran dan sampah.

"Perusahaan harus menggunakan bahan daur ulang dalam produk mereka dan menjadi lebih inovatif untuk menghindari penggunaan kemasan plastik sekali pakai," kata Tiza Mafira dari Aliansi Zero Waste Indonesia dalam konferensi video, Jakarta, Rabu.

Selain berorientasi pada penggunaan kemasan daur ulang, Tiza yang juga Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik menuturkan perusahaan perlu mendesain ulang sebagian besar produk mereka dengan prinsip mudah untuk didaur ulang dan lebih mudah bagi konsumen untuk mengetahui apa yang harus dilakukan setelah mengkonsumsi produk tersebut.

Upaya itu akan mendukung Indonesia mencapai target untuk mengurangi sampah plastik di lautan Indonesia sebesar 70 persen pada 2025 dan bebas sampah plastik pada 2040.

Menurut Tiza, perubahan perilaku seluruh pihak untuk bisa mengurangi sampah dan tidak menggunakan kemasan sekali pakai bukan hanya sekadar pilihan individual, namun perlu didorong dengan sistem ekternal baik dari kebijakan pemerintah maupun dunia swasta.

Konsumen juga diharapkan terus memilah dan mendaur ulang sampahnya.

Baca juga: Air kemasan dalam botol 100 persen daur ulang kini hadir di Jakarta

Tiza menyadari daur ulang tidak berhasil sepenuhnya di semua negara baik di negara maju maupun berkembang. Rata-rata tingkat daur ulang sampah hanya 10 persen secara global. Sementara pengemasan produk masih banyak yang tidak menggunakan bahan yang ramah lingkungan dan tidak mudah didaur ulang.

Dia juga menuturkan masih kurangnya informasi pada kemasan untuk memandu konsumen bertindak sehabis penggunaan produk. Di samping itu, harga kemasan plastik yang lebih murah mengakibatkan sedikitnya permintaan terhadap kemasan daur ulang. Apalagi, pemilahan sampah juga tidak berjalan dengan optimal di sumber-sumber sampah.

Dengan kondisi seperti ini, maka diperlukan upaya bersama untuk menangani masalah sampah di antaranya masyarakat lebih sadar terhadap bahaya sampah plastik dan beralih ke kemasan daur ulang atau yang berulang pakai, perusahaan juga membuat inovasi pada produknya untuk menggunakan kemasan atau bahan yang bisa didaur ulang.

Kampanye perubahan perilaku dan gerakan meninggalkan penggunaan plastik sekali pakai memang harus digencarkan.

Pemerintah juga harus memberikan lebih banyak insentif fiskal terhadap perusahaan yang melakukan pengemasan produk dengan kemasan yang ramah lingkungan.

Daerah-daerah juga didorong untuk dapat menerapkan "zero waste". Aliansi Zero Waste Indonesia bekerja sama dengan sejumlah kota di Indonesia untuk menerapkan kebijakan dan menerapkan model "zero waste" termasuk diantaranya mendorong masyarakat memilah, mendaur ulang sampah dan menggunakan kembali sampah serta menggantikan penggunaan plastik sekali pakai dengan wadah yang bisa berulang kali pakai.

Baca juga: Sampah kemasan sachet diprediksi menumpuk capai 1,3 triliun
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020