Wacana penghentian operasi Vale berdampak pada perekonomian Sulsel

Wacana penghentian operasi Vale berdampak pada perekonomian Sulsel

ilustrasi - Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/3/2019). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/pd. (ANTARA FOTO/BASRI MARZUKI)

Jakarta (ANTARA) - Wacana keputusan perusahaan tambang, PT Vale Indonesia untuk menghentikan operasinya akibat pandemi virus COVID-19 dinilai berpotensi memberi dampak besar bagi perekonomian sekitar, khususnya Sulawesi Selatan.

Deputy CEO PT Vale Febriany Eddy dalam pesan tertulis kepada Antara di Jakarta, Jumat menyatakan apabila dampak pandemi ini telah membahayakan kesehatan dan keselamatan pekerja, maka PT Vale telah menyiapkan skenario pengurangan produksi bahkan penghentian operasi (shutdown) .

Vale SA telah memutuskan untuk menghentikan produksi dan menerapkan mode perawatan dan pemeliharaan selama empat minggu pada bagian operasi lain di Voisey’s Bay Canada. Keputusan ini diambil sebagai bentuk antisipasi mewabahnya penyakit Covid-19 di wilayah tersebut.

Apabila keputusan tersebut diambil di Indonesia, akan mengancam hilangnya potensi APBD di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, sebesar 15 persen. Berdasarkan data yang dihimpun Antara, kontribusi PT Vale mencapai hampir Rp200 miliar atau kisaran 15 persen untuk APBD Kabupaten, hal tersebut belum termasuk konversi pajak terhadap provinsi Sulawesi Selatan.

Selain itu, sekitar 3.000 karyawan, 7.000 kontraktor dan sebanyak 138 supplier lokal memiliki potensi terdampak dengan keputusan tersebut.

Namun PT Vale menyadari bahwa keputusan pengurangan produksi atau shutdown ini nantinya bukanlah suatu keputusan yang mudah karena operasi PT Vale di Sorowako masih sangat berpengaruh terhadap aspek sosial ekonomi setempat, sehingga PT Vale mempunyai tanggung jawab sosial untuk terus beroperasi dengan aman.

Hingga akhir Kuartal I-2020, kinerja operasional PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) masih baik. Hal tersebut tercermin pada pencapaian target produksi Kuartal I-2020 sebanyak 17.614 ton Nikel dalam Matte. Kabupaten Luwu Timur sendiri, juga mendapatkan pasokan listrik sebesar 10,7 MW dari PLTA milik PT Vale Indonesia.

“Sampai saat ini, faktor yang mempengaruhi kinerja perusahaan lebih pada harga nikel yang terkoreksi yang mempengaruhi pendapatan, namun di lain sisi biaya produksi membaik karena harga minyak yang lebih rendah,” tambah Febriany Eddy.

PT Vale sampai saat ini juga masih menjalankan operasionalnya sesuai target dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2020 dengan mempertahankan angka produksi seperti tahun 2019 yakni 71.000 ton.

Meski demikian, PT Vale tetap memperhatikan kondisi aktual di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung yang belum dapat diprediksi kapan berakhirnya. Salah satunya adalah dengan menyiapkan perencanaan keberlangsungan bisnis untuk mengantisipasi dampak yang lebih serius terhadap operasional bila pandemi terjadi berkepanjangan.

Sampai saat ini, PT Vale juga masih dapat menjaga agar lini produksi terutama operasi tambang dan smelter tetap berjalan dengan tetap mengutamakan aspek kesehatan dan keselamatan pekerja serta lingkungan.

Baca juga: Vale Indonesia kembangkan inovasi boiler listrik

Baca juga: MIND ID ambil alih saham divestasi Vale Indonesia

Baca juga: Presdir Vale: ekspor bijih nikel mentah berdampak negatif
Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020