Praktik "kawin tangkap" di Sumba timbulkan rasa takut bagi perempuan

Praktik

Ketua DPRD NTT Emilia Nomleni. (Antara Foto/ Kornelis Kaha)

Kupang (ANTARA) - Ketua DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT) Emilia Nomleni menilai praktik "kawin tangkap" menimbulkan rasa ketakutan bagi kaum perempuan dan anak-anak di Sumba.

"Sudah pasti praktik kawin tangkap di Sumba ini tentu saja menggangu psikologi dari kaum perempuan di daerah itu. Selain itu juga sudah pasti menimbulkan rasa takut bagi kaum perempuan dan anak-anak di daerah itu," katanya kepada ANTARA di Kupang, Senin.

Hal ini disampaikannya berkaitan dengan kembali terjadinya praktik kawin tangkap yang videonya menyebar melalui sejumlah media sosial provinsi berbasis kepulauan itu.

Baca juga: Ketua DPRD minta praktik "kawin tangkap" di Sumba harus dihentikan

Praktik kawin tangkap sendiri bagi masyarakat di Sumba, khususnya di daerah pedalaman dianggap sebagai budaya yang diwariskan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun.

Politisi PDIP ini mengatakan bahwa bagi segelintir orang yang tak merasakan langsung praktik tersebut tentu saja akan merasa biasa-biasa saja, namun bagi perempuan itu sendiri praktik itu sendiri sebagai sesuatu yang sangat menakutkan.

"Tentu saja praktik ini juga akan berdampak pada kehidupannya setelah menikah nanti. Tetapi sebenarnya praktik ini juga sebenarnya tidak boleh," katanya.

Apalagi, lanjutnya, di jaman yang sudah maju seperti saat ini, dimana segala sesuatu dilindungi oleh undang-undang tentu saja praktik seperti ini tidak perlu lagi dilakukan.

"Dulu bagi saya mungkin ada hubungan kait mengait sehingga proses praktik ini bisa dilegalkan, tetapi dengan seiring perkembangan jaman seharusnya tidak boleh lagi dilakukan," kata Emilia.

Kaum perempuan khususnya anak-anak, katanya, harusnya dijaga dengan baik. Baik itu oleh orang tua, dan keluarga besar, harus ada di samping mereka untuk menjaga dan melindungi sehingga bisa bertumbuh kembang.

Baca juga: Antropolog : "Kawin tangkap" di Sumba hanyalah tindakan pragmatis

Ia pun mengatakan bahwa pihaknya akan kembali membahas soal masalah praktik ini karena memang sempat terhenti karena adanya COVID-19 yang mewabah saat ini.

Lebih lanjut anggota DPR RI Ratu Ngadu Bonu Wulla daerah pemilihan Sumba dihubungi secara terpisah dari Kupang mengatakan bahwa dampak buruk yang terjadi tidak hanya bagi perempuan tersebut yang ditangkap dan dikawinkan.

"Tetapi dampak ini justru akan terus berlanjut pada generasi yang dilahirkan nanti," ujarnya.

Politisi partai Nasdem itu sendiri mengharapkan agar budaya lama yang merusak harkat dan martabat kaum perempuan ini harus segera dihentikan dan sudah pasti perlu kerja sama semua pihak.

Baca juga: Tradisi antar mas kawin suku Biak kekayaan budaya Papua
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020