Uji klinis kandidat imunomodulator COVID-19 di Wisma Atlet berjalan

Uji klinis kandidat imunomodulator COVID-19 di Wisma Atlet berjalan

Kandidat imunomodulator tanaman herbal asli Indonesia untuk pasien terinfeksi virus corona baru yang sedang diuji klinis untuk subyek penelitian ke-90 di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet, Jakarta, Minggu (2/8/2020). (ANTARA/HO-LIPI)

Jakarta (ANTARA) - Uji klinis kandidat imunomodulator tanaman herbal asli Indonesia untuk pasien terinfeksi virus corona baru di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet masih berjalan dan berhasil merekrut subyek penelitian ke-90, Minggu (2/8).

Peneliti pada Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Masteria Yunolvisa Putra, selaku Koordinator Kegiatan Uji Klinis Kandidat Immunomodulator dari Herbal untuk Penanganan COVID-19 dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin, mengatakan telah berhasil merekrut subyek penelitian terakhir yakni subyek ke-90 untuk uji klinis kandidat imunomodulator yang berasal dari tanaman herbal asli Indonesia khusus untuk pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2.

Dari total 90 subyek penelitian untuk uji klinis kandidat imunomodulator untuk pasien COVID-19 tersebut 72 di antaranya telah selesai melakukannya, ujar dia.

Masteria menjelaskan, metode uji klinis kandidat imunomodulator dilakukan secara acak terkontrol tersamar ganda dengan plasebo untuk menjaga dari terjadinya bias pada penelitian.

Baca juga: LIPI akan uji klinik imunomodulator herbal pada 90 pasien COVID-19

Terdapat dua produk uji dan satu plasebo yang diberikan secara acak dan merata kepada 90 subyek uji, sehingga terdapat 30 subyek uji untuk masing-masing kelompok. Karena digunakan sistem blinding yang tersamar ganda, baik subyek maupun peneliti tidak mengetahui yang diberikan kepada subyek tersebut adalah salah satu dari produk uji yang diujikan atau plasebo.
 

Kandidat imunomodulator tanaman herbal asli Indonesia untuk pasien terinfeksi virus corona baru yang sedang diuji klinis di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet, Jakarta, Minggu (2/8/2020). (ANTARA/HO-LIPI)


Sistem blinding akan dibuka setelah keseluruhan uji klinis obat terhadap subyek selesai. Rencananya pada 16 Agustus 2020 sistem blinding itu sudah bisa dibuka untuk mengetahui data pasien yang sudah mendapatkan kontrol.

Saat ini, ia mengatakan tim peneliti yang berasal dari LIPI, Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan, dan tim dokter Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran sedang melakukan koleksi data yang akan dikirimkan ke BPOM selaku regulator.

Sebagai informasi, dua produk yang diujikan pada uji klinis adalah Cordyceps militaris dan kombinasi herbal yang terdiri dari rimpang jahe, meniran, sambiloto dan daun sembung. Kombinasi herbal itu sudah memilki prototipe dan data awal, serta sudah memiliki izin edar dari BPOM.

Seluruh tim peneliti memohon dukungan dari seluruh masyarakat agar uji klinis tersebut mendapatkan hasil yang menggembirakan sehingga dapat memberikan sumbangsih signifikan untuk penanggulangan pandemi COVID-19 di Indonesia, kata Masteria.

Baca juga: Balitbangtan sebut 50 tanaman berpotensi sebagai antivirus
Baca juga: Ahli: Puluhan ribu tanaman di Indonesia belum tereksplorasi jadi obat
Baca juga: Rektor: Wujudkan Indonesia sebagai lumbung herbal dunia

Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020